Buka konten ini

KETEGANGAN ekonomi antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat gara-gara kebangkitan ekspor Negeri Tirai Bambu yang melampaui ekspektasi pasar. Hal itu membuat Presiden AS, Donald Trump, melontarkan ancaman mempertimbangkan penghentian bisnis dengan Tiongkok yang berkaitan dengan minyak goreng.
Menurut data resmi bea cukai Tiongkok, ekspor pada September 2025 tumbuh 8,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Itu melebihi proyeksi kenaikan 7,1 persen seperti dilaporkan oleh Reuters. Impor juga naik 7,4 persen, menandai laju tercepat sejak April 2024 dan jauh di atas perkiraan 1,5 persen.
Kendati ekspor secara keseluruhan meningkat, hubungan dagang dengan AS justru merosot tajam. Ekspor Tiongkok ke pasar AS turun 27 persen secara tahunan, sementara impor dari AS menurun 16 persen. Akibatnya, surplus perdagangan Tiongkok terhadap AS dalam sembilan bulan pertama 2025 menyusut menjadi USD208,6 miliar atau Rp3.460 triliun dari USD258 miliar (Rp4.279 triliun) pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ancaman Trump menghentikan bisnis minyak goreng dengan Tiongkok, seperti diunggah di platform Truth Social, tak lain sebagai bentuk pembalasan atas sikap Beijing yang enggan membeli kedelai dari petani AS.
”Tiongkok melakukan tindakan ekonomi yang bersifat permusuhan dengan sengaja tidak membeli kedelai kami dan menyulitkan para petani di Amerika (Serikat),” begitu unggahan Trump dilansir dari CNBC.
Selama ini, Tiongkok merupakan pembeli utama kedelai AS atau senilai hampir USD12,8 miliar (Rp212,5 triliun) pada 2024. Akan tetapi, sejak Mei lalu, Beijing belum membeli satu pun kedelai dari Negeri Paman Sam akibat tarif timbal balik yang membuat harga impor jadi mahal.
”Tekanan dari faktor global masih tinggi, tetapi kami akan terus memperkuat kerja sama dengan mitra non-Amerika untuk menjaga keseimbangan perdagangan,” kata Wakil Menteri Bea Cukai Tiongkok, Wang Jun. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO