Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Batam (UNIBA) kembali mempertegas kiprahnya di ranah akademik internasional. Melalui kuliah internasional bertema “Batam City Towards an Integrated Sustainable Smart City with Free Trade Zone (FTZ) and Special Economic Zone (SEZ)”, UNIBA menghadirkan enam pakar dari empat negara yakni Rusia, Jepang, Malaysia, dan Indonesia, guna membahas masa depan Batam sebagai kota cerdas sekaligus kawasan ekonomi strategis.
Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu (11/10) ini menjadi forum lintas negara yang membedah potensi Batam dari berbagai perspektif: ekonomi, hukum, teknologi, hingga sosial kemasyarakatan.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNIBA, Prof. Dr. Ir. Chablullah Wibisono, MM, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kolaborasi internasional untuk mempercepat transformasi Batam.“Batam memiliki posisi unik sebagai simpul ekonomi dan inovasi kawasan. Dengan kolaborasi akademik seperti ini, kita dapat mengarahkan Batam menjadi kota cerdas yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Enam Pakar Dunia Kupas Strategi Pembangunan Batam
Dari Rusia, Prof. Tsvetkova Natalia Alexandrovna dari The Institute for U.S. and Canadian Studies, Russian Academy of Sciences membahas topik “Comparing Two Digital Infrastructure Models: Centralized Moscow vs Inclusive Chicago.” Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kendali pemerintah dan partisipasi publik dalam membangun ekosistem digital kota modern.
Dari Jepang, Nakamura Hirohide, Chairman A-Wing Group, menyoroti posisi Batam sebagai kawasan dengan status ganda FTZ dan SEZ.
“Keunggulan ini menjadikan Batam bukan hanya pintu masuk investasi internasional, tetapi juga laboratorium kebijakan perkotaan modern,” katanya.
Dari Indonesia, Prof. Dr. H. M. Soerya Respationo, S.H., M.H., M.M., Dekan Fakultas Hukum UNIBA, menegaskan bahwa inovasi harus berjalan seiring dengan supremasi hukum.
“Dengan inovasi dan hukum yang kuat, Batam dapat menjadi representasi kota masa depan Indonesia yang berdaulat dan berdaya saing,” ujar Soerya.
Sementara itu, Dr. Lita Sari Barus dari Universitas Indonesia menyoroti pentingnya konsep Segitiga Pertumbuhan Indonesia–Malaysia–Singapura sebagai model integrasi ekonomi kawasan.
Dari Malaysia, TPr Ts. Dr. Gobi Krishna Sinniah berbagi pengalaman penerapan konsep smart city di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) negaranya, dengan menekankan kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi digital sebagai motor penggerak pembangunan.
Menutup sesi, Dr. Ir. Paramita Rahayu dari Universitas Sebelas Maret membawa perspektif reflektif bertajuk “Paradoks Kota Cerdas: Ketika Teknologi Melupakan Manusia.” Ia mengingatkan bahwa keberhasilan kota modern tetap bergantung pada nilai kemanusiaan dan empati sosial.
UNIBA Mantapkan Jejaring Akademik Global
Kepala LPPM UNIBA, Dr. Malahayati Rusli Bintang, BSc, MPH, menyebut kegiatan ini sebagai langkah konkret memperluas jaringan riset dan inovasi lintas negara. Forum ini juga memperkuat peran UNIBA sebagai pusat gagasan strategis di bidang pembangunan perkotaan berkelanjutan.
“Kami berkomitmen memfasilitasi riset dan kolaborasi internasional yang mendukung transformasi Batam menuju kota pintar yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” tutur Malahayati menutup kegiatan. (*/adv)
Reporter : M Sya’ban
Editor : RATNA IRTATIK