Buka konten ini

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Wakil Rektor Sumber Daya Universitas Airlangga
DI lapangan, kita sering kali melihat investasi yang ternyata tidak menghasilkan keuntungan sebagaimana yang diharapkan. Kesalahan dalam mengambil keputusan investasi bisa menimbulkan kerugian besar bagi organisasi. Karena itu, banyak lembaga yang berusaha meningkatkan kinerja dengan berbagai cara. Misalnya, menerapkan target-based budgeting dan memanfaatkan teknologi informasi.
Kesalahan dalam menyajikan informasi bisa membuat keputusan keliru. Jika keputusan itu menyangkut finansial seperti pendanaan proyek atau program, dampaknya bisa sangat besar, baik bagi perusahaan swasta maupun lembaga pemerintah. Menariknya, kadang keputusan dianggap ’’benar’’ atau ’’salah’’ bergantung pada bagaimana informasi itu disajikan. Inilah yang membuat isu framing menjadi topik yang makin relevan dan penting dikaji.
Efektivitas suatu keputusan sesungguhnya dapat dilihat dari outcome atau dampak yang ditimbulkan organisasi pada para pemangku kepentingan. Karena itu, informasi memegang peran penting dalam pengambilan keputusan. Saat ini, informasi yang dianggap baik adalah informasi yang tidak memihak. Namun, kenyataannya, informasi yang netral pun masih bisa ditafsirkan secara bias.
Informasi Bias
Di era teknologi informasi, penggunaan big data sering kali dianggap mampu mendukung informasi yang valid. Ditambah mekanisme screening data dalam menghasilkan informasi andal. Dalam tulisan ini, penulis berpendapat bahwa bias tidak hanya muncul saat data diolah menjadi informasi, tetapi juga bisa terjadi dalam proses pengambilan keputusan karena adanya bias dalam cara seseorang membuat keputusan.
Bias dalam pengambilan keputusan, sebagaimana yang dijelaskan di atas, bukan sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Bias itu sebenarnya bisa diminimalkan dengan melakukan dua tahap. Pertama, tahap penyediaan informasi yang bebas bias untuk mendukung pengambilan keputusan. Kedua, tahap pemanfaatan informasi dalam mencapai tujuan melalui tindakan manajerial dan operasional yang tepat. Pada tahap kedua itu, pengambil keputusan perlu menyadari adanya potensi bias dalam proses pengambilan keputusan.
Jika pada tahap pertama terjadi gangguan yang memengaruhi validitas informasi, informasi berisiko tidak mampu memberikan sinyal yang tepat bagi pengambilan keputusan. Akibatnya, proses di tahap kedua, yaitu pelaksanaan dan pencapaian target kinerja, juga berpotensi gagal. Karena itu, penting bagi pengambil keputusan untuk memahami potensi kesalahan akibat berbagai bentuk bias yang mungkin terjadi. Dengan memahami potensi bias sejak tahap penyusunan informasi hingga tahap pengambilan keputusan, organisasi dapat menghindari pengulangan proses akibat keputusan yang keliru sehingga dapat menghemat biaya dan anggaran.
Dalam ilmu akuntansi keperilakuan, penyebab bias dalam pengambilan keputusan dapat diklasifikasikan sebagai bias kognitif, bias emosional, dan bias motivasi. Bias kognitif dapat terjadi ketika mengambil keputusan berdasar persepsi subjektif terhadap risiko dan keuntungan, bukan berdasar analisis rasional.
Bias kognitif sering disebabkan beberapa hal. Misalnya, ketika informasi yang disajikan memengaruhi interpretasi keputusan (framing bias). Beberapa orang terkadang hanya memperhatikan informasi yang sesuai dengan pandangannya (selective perception bias). Selain itu, bias tersebut terjadi karena seseorang mempunyai kecenderungan untuk mencari bukti yang mengonfirmasi keyakinan yang sudah ada (confirmation bias).
Pada beberapa kasus, terkadang keputusan didasarkan pada informasi yang paling mudah diingat, bukan yang paling relevan (availability bias). Selain hal tersebut, masih ada kecenderungan, setelah mengetahui hasil, seseorang meyakini bahwa hasil tersebut sudah dapat diprediksi sejak awal (hindsight bias) atau juga ketika seseorang bergantung terlalu besar pada angka awal (anchoring bias). Kemungkinan juga akan terjadi escalation of commitment bias, yakni ketika pembuat keputusan terus melanjutkan keputusan salah karena sudah terlalu banyak berinvestasi di dalamnya.
Bias Emosional
Bias emosional adalah penyimpangan dalam pengambilan keputusan yang disebabkan pengaruh emosi atau perasaan pribadi, bukan oleh pertimbangan logis dan analisis rasional terhadap data atau fakta. Dalam sudut pandang akuntansi keperilakuan, bias emosional dikategorikan sebagai salah satu faktor utama yang menjelaskan mengapa pengambil keputusan tidak selalu bertindak rasional, terutama ketika mereka menghadapi tekanan, insentif pribadi, atau risiko reputasi.
Bias emosional juga terjadi ketika muncul ketakutan terhadap kerugian lebih besar daripada keinginan memperoleh keuntungan (loss aversion bias). Bias emosional juga dapat terjadi pada keadaan di mana kita terlalu percaya diri atas kemampuan sendiri dalam membuat keputusan (overconfidence bias). Juga ketika kita menghindari keputusan yang berpotensi menimbulkan penyesalan (regret aversion bias). Selain bias emosional, ada kemungkinan terjadi bias emosi yang lain. Misalnya, ketika terlalu terikat secara emosional dengan pihak tertentu (emotional attachment bias).
Bias motivasi, menurut literatur behavioral accounting dan behavioral decision theory, terjadi ketika individu mengolah informasi secara selektif untuk mendukung hasil yang diinginkan (directional goal), menolak atau meremehkan bukti yang bertentangan dengan preferensinya, dan berpura-pura rasional. Padahal, keputusan sudah diarahkan oleh motivasi pribadi.
Bias motivasi terjadi karena seseorang menafsirkan data sesuai dengan kepentingan pribadi (self interest bias) atau ketika seseorang menilai keputusan hanya dari hasil, bukan prosesnya (outcome bias). Bias itu juga terjadi ketika seseorang mencari data yang mendukung pandangan pribadi (confirmation bias) atau ketika seseorang mengomunikasikan informasi secara selektif untuk memengaruhi pihak lain (strategic bias). Bias juga bisa terjadi ketika seseorang mengatribusikan kesuksesan ke diri sendiri dan kesalahan ke faktor luar (self serving bias).
Memahami bias yang mungkin terjadi ketika mengambil keputusan akan bisa menempatkan sebuah organisasi dalam sebuah sistem tata kelola organisasi yang efektif dan efisien. Keadaan itu bisa terjadi ketika kita memahami perilaku manusia dengan dukungan teknologi modern untuk mencapai kinerja terbaik.
Organisasi yang menginginkan kinerja unggul bisa memperhatikan penyediaan informasi yang akurat agar proses berjalan efisien dan terhindar dari pengulangan serta perlu membangun sumber daya manusia yang berintegritas, kreatif, inovatif, dan kompeten disertai sikap mental positif untuk mewujudkan kinerja unggul. (*)