Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi penolong masyarakat justru kini berubah menjadi sumber masalah. Kapal Puskesmas Keliling (Puskel) milik Puskesmas Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, sudah hampir satu tahun terakhir rusak berat dan tak lagi beroperasi maksimal.
Mesin kapal kerap mogok, sementara bagian badan kapal bocor di beberapa sisi. Akibatnya, kapal yang mestinya melayani warga pesisir kini lebih sering terparkir tak berdaya di dermaga.
“Sekarang Puskel itu cuma jadi pajangan. Bukannya membantu, malah bikin repot,” keluh Junaidi, warga Siantan Timur yang nyaris setiap hari menyaksikan kondisi kapal itu.
Padahal, kapal Puskel menjadi satu-satunya alat transportasi medis laut bagi warga di wilayah paling timur Anambas. Kapal itu sangat dibutuhkan untuk membawa pasien rujukan menuju RSUD Tarempa. Namun kini, pelayanan sering terhenti karena armada tak layak pakai.
“Kami sering kewalahan. Pernah ada dua pasien lansia yang menunggu hampir seharian penuh hanya untuk bisa dirujuk ke rumah sakit,” tutur Junaidi dengan nada kecewa.
Ia menilai kondisi itu tak bisa dibiarkan. Akses wilayah Siantan Timur yang jauh dan sulit dijangkau seharusnya membuat pemerintah lebih sigap memperhatikan kelayakan fasilitas kesehatan.
“Kalau Dinas Kesehatan tidak segera turun tangan, masyarakat bisa jadi korban. Ini soal nyawa,” tegasnya.
Kepala Puskesmas Siantan Timur, Plt. Yu Lestari Seregar, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengakui kapal Puskel di wilayahnya memang rusak berat dan kerap menimbulkan kendala besar saat membawa pasien.
“Iya, benar. Puskel kami rusak. Untuk sementara kami minta bantuan kapal Puskel dari Desa Air Asuk,” ujarnya.
Namun, upaya itu juga belum berhasil sepenuhnya. Kapal pengganti dari Air Asuk sempat mengalami kerusakan mesin di tengah laut saat mengangkut pasien.
“Waktu itu memang di luar kendali kami. Saat di tengah perjalanan, kapal pengganti mengalami trouble. Demi keselamatan pasien, kami akhirnya mencari kapal lain,” jelasnya.
Kondisi makin memprihatinkan karena ambulans darat milik Puskesmas Siantan Timur juga tak kalah uzur. Mobil itu sering mogok dan berulang kali harus masuk bengkel.
“Dari laut sampai darat, kami harus kerja ekstra. Tapi dengan fasilitas seperti ini, kami sering terhambat. Kadang rasanya berjuang sendirian,” ucap Yu Lestari lirih.
Situasi tersebut membuat tenaga kesehatan di Siantan Timur harus berpikir keras setiap kali menghadapi pasien gawat darurat. Mereka tak hanya berupaya menyelamatkan nyawa, tetapi juga mencari cara agar pasien bisa sampai ke rumah sakit dengan selamat.
Yu Lestari berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas, terutama Dinas Kesehatan, segera memperbaiki fasilitas yang rusak.
“Kami mohon ini jadi perhatian serius. Puskel dan ambulans bukan sekadar kendaraan, tapi alat penyelamat nyawa. Kalau dibiarkan rusak, siapa yang bisa menjamin keselamatan warga kami?” pungkasnya penuh harap. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO