Buka konten ini
LONDON (BP) – Steven Gerrard membuat pengakuan mengejutkan tentang timnas Inggris dekade 2000-an. Timnas The Three Lions yang dianggap sebagai generasi emas tersebut disebut Gerrard tidak pernah bisa berprestasi alias juara karena para pemainnya tidak bisa akur.
Hal itu diungkapkan mantan gelandang sekaligus kapten Liverpool FC itu dalam siniar Rio Ferdinand, mantan rekannya di Three Lions. Gerrard yang mencatatkan 114 caps dan 21 gol selama periode 2000 sampai 2014 itu mengungkap adanya masalah rivalitas antarklub dan kurangnya semangat kebersamaan yang telah menggerogoti skuad yang dihuni David James, Gary Neville, Jamie Carragher, Ferdinand, John Terry, Ashley Cole, David Beckham, Gerrard, Frank Lampard, Paul Scholes, Wayne Rooney, dan Michael Owen tersebut.
”Aku pikir kami semua adalah para pecundang egois (egotistical losers),” kata Stevie G sapaan akrab Gerrard.
Dulu Benci, Kini Bersahabat
Pria 45 tahun itu mendasarkan penilaian kejamnya itu pada apa yang diamatinya sekarang. Dia merasa heran melihat bagaimana Carragher kini bisa duduk bersebelahan dan bersahabat dengan Scholes atau Neville di studio TV. Sebuah keakraban yang menurutnya tidak pernah ada saat mereka masih aktif bermain bersama di timnas.
”Kenapa kita tidak bisa terhubung saat kita berusia 20, 21, 22, 23 tahun? Apakah itu karena ego? Apakah itu karena rivalitas?” tanya Gerrard dengan nada retoris.
”Kami bukan tim. Kami hanya sekelompok individu berbakat dan tidak pernah seperti itu (jadi sebuah tim),” imbuhnya.
Terbawa Rivalitas Klub
Menurut pengakuan Gerrard, akar utama dari kegagalan generasi emas The Three Lions adalah ketidakmampuan para pemain bintang saat itu untuk menaggalkan rivalitas sengit di level klub saat bersama di timnas. Saat itu, diakui Gerarrd ada ”geng-gengan” mengacu asal klub mereka.
Ada blok LFC yang dihuni Gerrard, Owen, dan Carragher. Blok Manchester United yang terdiri dari Ferdinand, Neville, Scholes, Beckham, dan Rooney. Sementara dari blok Chelsea adalah Terry, Lampard, Cole (Ashley maupun Joe). ”Ada kepahitan. Ya, kebencian, sedikit kebencian,” ucap mantan pelatih Rangers, Aston Villa, dan Al-Ettifaq Club tersebut. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO