Buka konten ini

BATAM (BP) – Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perikanan (Diskan) terus berinovasi untuk meningkatkan produktivitas sektor perikanan budidaya. Salah satu langkah yang kini digencarkan adalah penerapan teknologi bioflok, sistem budidaya ikan yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Perikanan Batam, Yudi Admajianto, mengatakan program bantuan bioflok saat ini tengah memasuki tahap finalisasi. Sebanyak 137 unit bantuan bioflok akan dibangun dan ditargetkan rampung pada November 2025.
“Prosesnya sudah berjalan, mulai dari pemilihan penyedia, verifikasi calon penerima, hingga survei lapangan. Harapannya, sistem ini bisa segera dimanfaatkan para pembudidaya ikan di Batam,” ujar Yudi, Selasa (7/10).
Teknologi bioflok bekerja dengan memanfaatkan mikroorganisme organik untuk menjaga kualitas air kolam. Dengan sistem ini, ikan dapat tumbuh optimal tanpa perlu sering mengganti air. Selain ramah lingkungan, teknologi ini juga menghemat biaya pakan hingga 30 persen dan memungkinkan kepadatan tebar ikan lebih tinggi dalam satu kolam.
“Dengan bioflok, para pembudidaya bisa lebih hemat dan hasil panen lebih stabil. Teknologi ini cocok diterapkan di Batam yang lahannya terbatas, tapi permintaan ikan terus meningkat,” jelas Yudi.
Program ini tidak hanya difokuskan pada budidaya lele, tetapi juga menyasar ikan air tawar lain seperti nila dan patin. Pemerintah berharap penerapan sistem ini dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pesisir serta mendukung pembudidaya kecil di berbagai kecamatan.
Tren produksi ikan budidaya di Batam juga menunjukkan peningkatan signifikan. Dinas Perikanan mencatat produksi lele mencapai 258.583 kilogram pada Agustus, dan naik menjadi 261.173 kilogram pada September 2025. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2024 yang hanya 176.042 kilogram dan 184.713 kilogram.
Menurut Yudi, kenaikan ini tak lepas dari dukungan pemerintah melalui bantuan pakan, bibit, dan pendampingan teknis yang terus berjalan.
“Tahun lalu banyak pembudidaya masih menahan diri karena situasi belum pasti. Sekarang mereka kembali aktif, dan hasilnya menggembirakan,” ujarnya.
Penerapan sistem bioflok diyakini akan semakin memperkuat capaian positif tersebut, terutama dalam mendorong produksi ikan air tawar berkelanjutan di Batam. Selain efisiensi produksi, teknologi ini juga berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
“Visi kami menjadikan Batam sebagai kota maritim modern yang mampu mengelola sumber daya perikanan dengan pendekatan teknologi dan ramah lingkungan,” tutup Yudi. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK