Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Hampir seperempat abad setelah perusahaan dirgantara Lockheed Martin diberi kepercayaan untuk mengembangkan Program Joint Strike Fighter menjadi F-35, pemerintah Amerika Serikat (AS) akhirnya mengakui bahwa jet tempur tersebut tidak pernah memenuhi harapan. Hal itu terungkap dari laporan Badan Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) meski dengan bahasa yang agak rumit dan sulit dipahami.
Seperti dilansir dari majalah Responsible Statecraft, laporan GAO dalam paragraf pertama tentang tantangan berkelanjutan menyebut ”Program ini berencana untuk mengurangi cakupan Blok 4 agar dapat memberikan kemampuan kepada para prajurit dengan kecepatan yang lebih terprediksi dibandingkan sebelumnya.”
Pernyataan tersebut merupakan pengakuan yang mendalam bahwa F-35 tidak akan pernah memenuhi target kemampuan yang ditetapkan untuk program tersebut. ”Mengurangi cakupan Blok 4” berarti bahwa para pejabat program mengabaikan kemampuan tempur yang direncanakan untuk jet tempur yang diproduksi kali pertama pada 2006 tersebut.
Blok 4 adalah istilah untuk menggambarkan pekerjaan desain yang sedang berlangsung untuk program ini. Proses ini dimulai pada 2019 dan disebut sebagai fase modernisasi program. Pada kenyataannya, Blok 4 hanyalah kelanjutan dari proses pengembangan awal program. Blok 4 mencakup beberapa hal yang terkait dengan peperangan elektronik, persenjataan, komunikasi, dan navigasi menurut GAO
”Jadi, ketika pejabat program mengatakan mereka berencana untuk mengurangi cakupan Blok 4, mereka mengatakan F-35 tidak akan memiliki semua kemampuan tempur yang seharusnya menjadi bagian dari desain aslinya,” tulis Responsible Statecraft.
Saat ini tercata ada 19 negara yang telah mengoperasikan F-35 setelah membelinya dari AS. Beberapa negara seperti Inggris, Norwegia, dan Italia malah telah membeli sebelum Lockheed Martin memenangkan kontrak untuk mengembangkan F-35. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO