Buka konten ini

Seragam abu-abu kebanggaan menempel di tubuhnya, sementara kedua matanya terpejam. Bukan kantuk, namun memang matanya tak lagi bisa melihat. Namun, di balik kegelapan itu, ada cahaya yang justru kian terang, semangat hidupnya.
NAMANYA Jasman. Ia resmi dilantik menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bagi sebagian orang, jabatan itu mungkin hanya sebatas peningkatan status pekerjaan. Tapi bagi Jasman, itu adalah keajaiban kecil yang terasa besar.
Pagi itu, di halaman kantor Satpol PP Kabupaten Lingga, Jasman berdiri tegak. Seragam abu-abu kebanggaan menempel di tubuhnya, sementara kedua matanya terpejam. Tapi, bukan karena kantuk. Sejak setahun lalu, dunia di sekelilingnya memang sudah berubah menjadi gelap. Namun, di balik kegelapan itu, ada cahaya yang justru kian terang, semangat hidupnya.
Jasman, warga Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, resmi dilantik menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Bagi sebagian orang, jabatan itu mungkin hanya sebatas peningkatan status pekerjaan. Tapi bagi Jasman, itu adalah keajaiban kecil yang terasa besar. Sebuah hadiah setelah bertahun-tahun mengabdi, jatuh, lalu bangkit kembali.
Perjalanan Jasman dimulai jauh sebelum gelap datang menyelimuti. Sejak 2005, ia sudah menjadi bagian dari Satuan Polisi Pamong Praja. Bertugas menjaga ketertiban, membantu masyarakat, dan berdiri di garis depan dalam berbagai kegiatan pemerintahan. Lebih dari 10 tahun ia jalani status sebagai tenaga honorer, kemudian diangkat menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT). Hidupnya sederhana, penuh kerja keras, dan tak banyak keluh.
Hingga suatu malam, nasib seolah berbelok tajam. “Saya lagi piket malam waktu itu, badan terasa nggak enak,” kenang Jasman perlahan. “Saya izin pulang lebih awal, sudah bilang ke rekan kalau itu melanggar saya siap disanksi. Tapi pas bangun keesokan harinya, pandangan saya gelap. Saya nggak bisa lihat apa-apa lagi,” tambahnya.
Sejak hari itu, hidup Jasman berubah total. Dunia tanpa warna, tanpa cahaya. Hanya hitam pekat. “Saya sempat putus asa. Saya pikir hidup saya selesai,” katanya lirih.
Namun, ia tak sendiri. Di sampingnya ada istri yang setia menggenggam tangan, dan tiga anak yang tak pernah berhenti memeluknya setiap pagi.
“Kalau bukan karena mereka, mungkin saya sudah menyerah,” ucap Jasman dengan mata berkaca-kaca. “Mereka selalu bilang, ‘Bapak masih bisa, asal jangan berhenti,” lanjutnya.
Dukungan keluarga itu menjadi bahan bakar semangatnya. Perlahan, Jasman mulai berdamai dengan takdir. Ia kembali ke posnya, mengenakan seragam yang sama, menjalankan tugas sebagai petugas piket Satpol PP meski tanpa penglihatan.
“Rahmat Tuhan itu nyata,” katanya penuh haru. “Kalau kita menerima keadaan dan tetap berusaha, tidak ada yang tidak mungkin. Alhamdulillah, walaupun saya tidak bisa melihat, saya tetap dipercaya untuk dilantik jadi PPPK,” syukurnya.
Kini, setiap langkah Jasman mungkin tak lagi pasti, tapi hatinya selalu yakin pada arah yang ia tuju. Di tengah gelap yang abadi, ia tetap berjalan dengan cahaya keyakinan dan cinta keluarganya.
Bagi Jasman, pelantikan sebagai PPPK bukan sekadar pencapaian karier—melainkan kemenangan hidup. Bukti bahwa keterbatasan tidak bisa mengalahkan tekad. Dan dari kisahnya, kita belajar: meski mata tak lagi mampu melihat dunia, hati yang kuat mampu membuat hidup tetap bercahaya. (***)
Reporter : VATAWARI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO