Buka konten ini

Bukan di kota besar, panggung megah, tapi di garda terdepan negeri, tempat prajurit TNI menjaga batas dan harga diri bangsa, jauh dari rumah, dari keluarga, dan dari segala kenyamanan. Tepuk tangan panjang menggema. Beberapa prajurit menepuk bahu rekannya, ada yang menunduk menahan haru. Di tempat sejauh ini, kebersamaan bukan sekadar kata—tapi napas yang membuat mereka kuat bertahan.
OMBAK memecah pelan di tepi dermaga. Angin laut membawa aroma asin yang khas, menerpa wajah para prajurit yang berdiri tegap di Lapangan Lanal Tarempa, Kepulauan Anambas, Minggu (5/10) pagi itu.
Di tanah kecil yang dikelilingi laut biru sejauh mata memandang, merah putih berkibar gagah. Bukan di tengah kota besar, bukan di panggung megah—melainkan di garda terdepan negeri, tempat prajurit TNI menjaga batas dan harga diri bangsa, jauh dari rumah, dari keluarga, dan dari segala kenyamanan.
Hari itu bukan hari biasa. Tepat 5 Oktober ini, TNI genap berusia 80 tahun. Namun, di Anambas, perayaan ulang tahun itu bukan pesta. Tak ada kembang api, tak ada panggung musik. Hanya apel sederhana di bawah sinar matahari, dengan wajah-wajah tegas yang tetap tersenyum, meski rindu mengendap di dada.
Pabung Kodim 0318/Natuna, Letkol Inf Ali Ramadhan Siregar, berdiri di depan barisan.
Suaranya tegas, langkahnya mantap. Tapi siapa pun tahu, di balik ketegasan itu tersimpan rasa haru. Di sini, di ujung negeri, setiap prajurit adalah benteng sekaligus saudara bagi satu sama lain.
Namun, suasana khidmat itu mendadak berubah hangat. Dari sisi lapangan, tampak rombongan berseragam cokelat datang membawa sesuatu. Sebuah kue ulang tahun besar dan tumpeng kuning berhiaskan bendera kecil merah putih.
Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianalola, memimpin langkah dengan senyum lebar. Di belakangnya, para anggota Polres mengikuti sambil menenteng hadiah itu dengan penuh semangat. Tak ada sirine, tak ada upacara formal. Hanya semangat persaudaraan yang tulus.
Begitu rombongan tiba di tengah lapangan, sorak spontan pecah. Para prajurit bertepuk tangan, sebagian tertawa, sebagian terdiam haru. Dua warna seragam berdiri berdampingan—hijau dan cokelat—dalam satu barisan, satu semangat, satu Indonesia.
“Selamat ulang tahun ke-80 untuk saudara kami, TNI,” ujar Kapolres Ngurah lantang namun lembut. “Ini bukan sekadar perayaan, tapi penghormatan. Di garda terdepan ini, TNI dan Polri adalah satu jiwa, satu langkah, satu tanah air,” lanjutnya.
Ia menatap langit biru yang seolah tak bertepi. “Selama TNI dan Polri berdiri bersama, tak ada ancaman yang mampu menggoyahkan kedaulatan Indonesia,” lanjutnya penuh keyakinan.
Tepuk tangan panjang menggema. Beberapa prajurit menepuk bahu rekannya, ada yang menunduk menahan haru. Di tempat sejauh ini, kebersamaan bukan sekadar kata—tapi napas yang membuat mereka kuat bertahan.
Letkol Inf Ali Ramadhan maju menerima tumpeng dari Kapolres. Tangannya sedikit bergetar saat memotong potongan pertama. “Anambas mungkin jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Tapi di sinilah Indonesia berdetak. Kami berdiri di batas, bukan untuk dilihat, tapi untuk menjaga agar merah putih tetap berkibar,” ujarnya lirih tapi pasti.
Kata-kata itu menembus hati. Semua yang hadir seolah tersentuh, menyadari betapa besar makna pengabdian yang dijalani dalam diam.
Usai apel, suasana berubah akrab. TNI dan Polri duduk melingkar di tanah lapangan, menyantap tumpeng yang baru dipotong. Tak ada pangkat, tak ada jarak. Mereka bercanda, menertawakan hal-hal kecil, seolah tak sedang bertugas di perbatasan yang penuh tantangan.
“Beginilah kehidupan di sini,” ujar Komandan Pomal Lanal Tarempa sambil tersenyum. “Kami mungkin jauh dari segalanya, tapi semangat kebersamaan membuat semuanya terasa dekat,” lanjutnya.
Lalu, ketika lagu Bagimu Negeri mulai berkumandang, suasana mendadak hening. Suara mereka menyatu, pelan tapi sarat makna. Ada yang menatap langit, ada yang menunduk khusyuk, ada pula yang menitikkan air mata tanpa suara.
Di Anambas, cinta tanah air bukan hanya slogan di spanduk atau pidato seremonial. Ia hidup dalam setiap langkah patroli malam, dalam setiap pandangan mata ke laut yang luas, dalam setiap senyum yang menahan rindu.
Menjelang siang, matahari berdiri tepat di atas kepala. Lapangan mulai lengang, lilin di atas kue perlahan padam. Tapi di dada mereka yang berdiri di sana, api semangat itu tetap menyala—tak padam oleh jarak, waktu, atau rindu.
Anambas pagi itu menjadi saksi, di ujung negeri, merah putih dijaga bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan cinta, persaudaraan, dan ketulusan yang tak pernah pudar. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO