Buka konten ini

TOKYO (BP) – Sanae Takaichi diambang menjadi perdana menteri (PM) perempuan pertama Jepang. Itu setelah Takaichi terpilih sebagai ketua Partai Demokrat Liberal (LDP) akhir pekan lalu (4/10).
Jika parlemen Jepang (Diet) menyetujuinya pada sesi luar biasa pertenganhan bulan ini (15/10), Takaichi akan resmi menjabat sebagai perdana menteri akhir bulan ini.
Takaichi memenangi perebutan pemimpin LDP setelah mengalahkan Shinjiro Koizumi dalam putaran kedua pemungutan suara (185 suara berbanding 156 suara). Dia pun menggantikan Shigeru Ishiba, PM Jepang yang mengundurkan diri setelah kurang lebih satu tahun menjabat karena kekalahan pemilu dan skandal partai.
Seperti dilansir The Straits Times, LDP merupakan partai terbesar di majelis rendah parlemen Jepang yang menentukan pemilihan PM. Dukungan dari partai oposisi yang terpecah sekaligus membuat peluangnya besar.
Janjikan Keterwakilan Wanita
Takaichi telah berjanji akan membentuk kabinet dengan keterwakilan perempuan setara dengan negara-negara Nordik. Setidaknya, lebih dari dua menteri perempuan saat kabinet sebelumnya di bawah PM Ishiba. Takaichi juga menyatakan ingin meningkatkan kesadaran publik tentang masalah kesehatan perempuan. Termasuk secara terbuka berbagi pengalamannya menghadapi menopause. Mengingat, usianya yang sudah 64 tahun.
Akan tetapi, pakar politik dan gender dari Universitas Tokai Profesor Yuki Tsuji menilai, Takaichi tidak menunjukkan minat terhadap hak-hak perempuan atau kebijakan kesetaraan gender. ”Jadi, kecil kemungkinan akan ada perubahan kebijakan signifikan dibandingkan pemerintahan LDP sebelumnya,” katanya seperti dikutip dari AFP.
Meski demikian, Tsuji mengakui terpilihnya seorang perempuan sebagai perdana menteri memiliki makna simbolik yang besar. Ditambah ekspektasi akan sangat tinggi.
”Kalau dia (Takaichi) gagal, bisa muncul persepsi negatif terhadap pemimpin perempuan di masa depan,” imbuhnya.
Minim Pemimpin dari Kaum Hawa
Takaichi bukan yang pertama menjadi tokoh pemimpin perempuan di Jepang. Tahun lalu, mantan pramugari Mitsuko Tottori menjadi presiden maskapai Japan Airlines. Pencapaian seperti itu masih langka di dunia korporasi Jepang.
Pada 2021, hanya 13,2 persen posisi manajerial di Jepang dipegang oleh perempuan. Terbilang persentase terendah di antara negara anggota OECD. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO