Sabtu, 14 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Citra Kampung Aceh Mulai Berubah

Warga Bangun Harapan Baru Lewat Nama Madani

SEIBEDUK (BP) – Perubahan nama dari Kampung Aceh menjadi Kampung Madani di Kecamatan Seibeduk membawa harapan baru bagi warga­nya. Namun, di balik semangat pembaruan itu, masih tersisa persoalan administratif yang membuat warga bingung. Sebab hingga kini, nama Kampung Madani belum tercantum dalam dokumen kependudukan.

Ketua RW 014 Kampung Madani, Sumarno, mengatakan, alamat warga di KTP masih menggunakan nama lama, Kampung Aceh. Kondisi ini membuat sebagian warga ragu menggunakan nama baru dalam berbagai urusan administrasi.
“Kalau di KTP masih Kampung

Aceh, belum berubah. Jadi kadang bingung juga, ini mau disebut Kampung Aceh atau Kampung Madani,” ujar Sumarno, Jumat (4/10).
RW 014 yang dipimpinnya menaungi sekitar 700 jiwa dari empat RT. Sumarno menuturkan, warga menyambut baik perubahan nama itu karena dianggap mencerminkan semangat baru—bersih dari stigma lama yang pernah melekat.

“Kami ingin dikenal sebagai Kampung Madani, kampung yang tertib dan damai,” ucapnya.
Namun, di tengah upaya memperbaiki citra, masih ada masyarakat luar yang kerap mengaitkan kawasan tersebut dengan aktivitas negatif, terutama kasus narkoba. Sumarno menegaskan, wilayah yang dimaksud bukan berada di lingkungan Kampung Aceh yang kini telah berganti nama menjadi Kampung Madani.

“Kalau soal narkoba itu bukan di sini, tapi di Kampung Tower dan Kampung Gotong Royong. Bukan di sini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, nama Kampung Aceh sendiri lahir dari sejarah panjang para perantau asal Aceh yang pertama kali membuka lahan di kawasan itu. Kini, penduduknya sudah beragam dan semangat kebersamaan terus tumbuh.

“Sekarang sudah campur, bukan orang Aceh semua. Tapi nama Kampung Aceh masih melekat karena sejarahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolsek Sei Beduk, Iptu Alex Yasral, mengungkapkan, pihak kepolisian terus melakukan pemantauan dan pembinaan di kawasan tersebut. Ia mengapresiasi perubahan besar yang terjadi di Kampung Madani dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu wilayah ini dikenal padat dan sering dikaitkan dengan kegiatan negatif. Sekarang, alhamdulillah, sudah banyak berubah. Warga semakin sadar dan ikut menjaga keamanan lingkungan,” tutur Alex.

Ia menegaskan, kepolisian bersama TNI dan masyarakat berkomitmen menjaga kawasan itu dari segala bentuk penyalahgunaan narkotika.
“Sejengkal pun wilayah ini tidak boleh dijadikan tempat peredaran narkoba. Itu sudah jadi kesepakatan bersama,” katanya.

Menurut Alex, perubahan sosial di Kampung Madani menjadi bukti bahwa kolaborasi antara aparat dan warga mampu membalikkan citra kawasan. Namun, ia berharap ada dukungan dari pemerintah daerah dan BP Batam untuk memperjelas status lahan serta penataan wilayah.

“Status tanah di sini masih milik BP Batam. Harapan kami, ke depan ada perhatian lebih agar warga punya kepastian hukum dan identitas wilayah yang jelas,” tutupnya.

Kini, di balik papan nama besar bertuliskan “Kampung Madani”, tersimpan tekad warga yang ingin menatap masa depan baru—lebih tertib, bersih, dan aman—meski pengakuan resminya masih menunggu waktu. (*)

Reporter : Yashinta
Editor : Jamil Qasim