Buka konten ini
Tangga batu menuju lokasi wisata yang dulu kokoh, kini miring dan retak. Sementara pegangan besi yang dulunya menopang langkah wisatawan, banyak yang patah dan bahkan hilang.
Hembusan angin gunung, suara burung yang bersahutan, dan gemericik air yang jatuh dari ketinggian puluhan meter seharusnya menghadirkan ketenangan bagi siapa pun yang datang ke Air Terjun Gunung Bintan, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan. Namun, pengalaman itu kini bercampur dengan rasa waswas.
Saat Batam Pos menelusuri jalur itu, Jumat (3/10), beberapa wisatawan terlihat harus bergantian menuruni tangga sambil berpegangan pada pohon di tepi jalan setapak. “Kalau licin, ngeri jatuh. Padahal pemandangannya indah sekali,” kata Ahmad, seorang pengunjung asal Tanjungpinang yang datang bersama keluarganya.
Air Terjun Gunung Bintan bukan sekadar aliran air. Ia menyimpan cerita panjang tentang kejayaan wisata alam Bintan. Pada era 1990-an hingga awal 2000-an, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan lokal, pelajar, hingga turis mancanegara. Banyak agen perjalanan memasukkan Gunung Bintan dalam paket wisata mereka.
Namun, sejak sepuluh tahun terakhir, kondisi berubah. Fasilitas yang ada dibiarkan rusak. Toilet kumuh, tangga tak terurus, shelter roboh. Ketua RW 006 Desa Bintan Buyu, Muslim, mengungkapkan rasa prihatin warganya. “Objek wisata ini sudah seperti terlupakan. Padahal dulu ramai, sekarang sepi karena akses berbahaya,” keluhnya.
Tidak hanya wisatawan yang dirugikan, warga sekitar juga kehilangan sumber ekonomi.
Dahulu, setiap akhir pekan banyak pedagang kecil menggelar lapak di kaki gunung. Ada yang menjual minuman segar, makanan ringan, hingga jasa pemandu lokal. Kini, sebagian besar dari mereka gulung tikar. “Dulu bisa dapat tambahan uang buat anak sekolah. Sekarang paling hanya satu dua orang datang, tidak laku jualan,” kata seorang ibu pedagang setempat.
Muslim berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki fasilitas, tetapi juga menambah wahana baru agar lebih menarik. “Kalau ada peluncuran dari atas bukit ke kolam air terjun, pasti lebih seru. Wisatawan tidak bosan hanya mandi atau foto-foto,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Ronny Kartika, mengakui kerusakan fasilitas di Air Terjun Gunung Bintan sudah menjadi perhatian. Namun, perbaikan terhambat karena lokasi tersebut berada di kawasan hutan di bawah kewenangan instansi lain.
“Kita sedang upayakan pola pinjam pakai lahan. Kalau sudah ada izin, pemda bisa masuk untuk memperbaiki,” tegasnya.
Meski begitu, janji koordinasi pemerintah belum sepenuhnya membuat warga lega. Mereka khawatir kerusakan bertambah parah jika dibiarkan terlalu lama. “Sayang sekali kalau dibiarkan. Padahal alamnya luar biasa indah, bisa jadi ikon wisata Bintan,” ujar Muslim lagi.
Potensi yang Belum Mati
Gunung Bintan bukan hanya air terjun. Hutan tropisnya kaya flora dan fauna, bahkan tercatat sebagai habitat anggrek hutan langka. Gunung setinggi 340 meter ini sering disebut miniatur ekowisata yang berpotensi masuk paket wisata internasional.
Sayangnya, tanpa perbaikan fasilitas, potensi itu hanya akan jadi cerita. Wisatawan lebih memilih destinasi lain yang lebih aman dan nyaman. “Kalau aksesnya bagus, saya yakin turis Singapura atau Malaysia mau datang lagi. Mereka suka wisata alam, tapi harus didukung infrastruktur,” kata seorang pemandu wisata di Tanjungpinang.
Kini, Air Terjun Gunung Bintan ibarat permata yang tertutup debu. Keindahan alaminya tetap memesona, tetapi tertutupi oleh fasilitas yang terbengkalai. Warga hanya bisa berharap pemerintah benar-benar serius memulihkannya.
“Kalau diperbaiki, kami bisa bangkit lagi. Wisatawan datang, ekonomi hidup, nama Bintan juga harum,” tutur Muslim dengan nada penuh harap.
Sementara itu, wisatawan seperti Ahmad hanya bisa berpesan singkat: “Sayang sekali kalau dibiarkan rusak. Gunung Bintan ini harta kita bersama. Jangan tunggu sampai orang luar yang lebih peduli daripada kita sendiri.” (***)
Reporter : Slamet Nofasusanto Editor : M. Tahang