Buka konten ini
BATAM (BP) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Israel mencegat enam kapal Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza, Kamis (2/10). Dalam operasi tersebut, puluhan aktivis ditahan, termasuk aktivis muda asal Swedia, Greta Thunberg.
Menurut laporan Al Jazeera, kapal-kapal tersebut dicegat sekitar 70 mil laut dari pantai Gaza. Beberapa di antaranya menjadi sasaran tindakan agresif angkatan laut Israel, seperti penabrakan dan penyemprotan meriam air.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Israel menyebut Thunberg dan rekan-rekannya dalam keadaan aman, bahkan membagikan rekaman video sang aktivis di atas kapal melalui akun resmi @IsraelMFA.
Kelompok aktivis Global Sumud Flotilla mengecam penyergapan itu sebagai tindakan ilegal. “Yang ilegal adalah genosida Israel, blokade terhadap Gaza, dan penggunaan kelaparan sebagai senjata,” tulis mereka melalui akun X @GazaFFlotilla.
Direktur pusat hukum Adalah, Hassan Jabareen, menilai para aktivis dapat dideportasi dalam 72 jam atau dibawa ke pengadilan dalam 96 jam. Namun, ia memperkirakan Israel lebih memilih segera membebaskan mereka untuk menghindari sorotan media internasional yang semakin besar.
”Jika mereka ditahan lebih lama, perhatian media akan terus meningkat,” ujar Hassan.
Di sisi lain, Turki mengecam keras tindakan Israel dan menyebutnya sebagai “terorisme negara” sekaligus pelanggaran serius hukum internasional. Ankara juga sedang menyiapkan langkah diplomatik untuk membebaskan warganya yang ikut dalam flotilla.
Sementara itu, di Lebanon selatan, sebuah serangan drone Israel menghantam mobil di Desa Kafra pada hari yang sama. Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya. Identitas korban belum dipastikan, tetapi serangan ini menambah panjang daftar korban sipil di tengah konflik Israel–Hizbullah yang terus bergolak.
Komisioner Tinggi HAM PBB, Volker Türk, mengungkapkan, sedikitnya 103 warga sipil Lebanon tewas akibat serangan udara Israel sepanjang 10 bulan terakhir. Ia menilai serangan Israel sering kali mengenai kawasan permukiman, bahkan berdekatan dengan pos pasukan penjaga perdamaian PBB.
Konflik Israel–Hizbullah yang pecah sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 4.000 orang di Lebanon dan 127 orang di Israel, serta menyebabkan lebih dari 80 ribu warga Lebanon dan 30 ribu warga Israel mengungsi hingga kini. Bank Dunia mencatat kerugian ekonomi di Lebanon mencapai 11 miliar dolar AS.
Dengan meningkatnya korban sipil dan aksi militer Israel yang meluas, tekanan internasional semakin besar agar kedua pihak segera mencari jalan keluar politik. Namun, situasi di Gaza dan Lebanon memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata serta ancaman perang yang kian membayangi kawasan. (*)
Reporter : jp group
Editor : FISKA JUANDA