
Predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) ternyata belum sepenuhnya mencerminkan kondisi perlindungan anak di Kabupaten Kepulauan Anambas. Sepanjang tahun ini, kasus kekerasan terhadap anak justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Anambas, Usman, menyebut sudah ada sekitar 15 kasus yang dilaporkan, baik kekerasan fisik maupun seksual. “Kalau jumlah pastinya saya lupa, tapi yang jelas meningkat dibanding tahun lalu,” ujarnya, Kamis (2/10).
Menurut Usman, status KLA seharusnya menjadi pemicu untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan nyaman bagi anak. Namun, ia menegaskan, upaya ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah atau aparat penegak hukum.
“Semua pihak harus ikut terlibat. Tidak bisa hanya Pemkab, guru, atau aparat. Orang tua juga harus berperan aktif menjaga anak-anaknya,” tegasnya.
Ia mencontohkan, banyak kasus terjadi saat anak-anak berada di luar rumah tanpa pengawasan orang tua. Bahkan, ada yang diizinkan menginap di tempat lain dengan alasan menonton turnamen olahraga, padahal sangat rawan menjadi korban kekerasan seksual.
Selain minim pengawasan, faktor ekonomi keluarga juga kerap menjadi pemicu kerentanan anak. Beberapa bahkan terpaksa putus sekolah sehingga lebih rentan menjadi korban. “Pelaku kekerasan biasanya justru orang dekat, seperti bapak tiri, paman, atau teman. Itu yang harus diwaspadai,” jelasnya.
Usman menegaskan, predikat KLA bukan berarti semua persoalan perlindungan anak sudah selesai. Masih banyak indikator yang harus diperbaiki, terutama membangun kesadaran masyarakat agar anak-anak merasa aman di lingkungannya. Salah satunya dengan edukasi sejak dini tentang bahaya kekerasan dan cara melindungi diri.
Koordinasi lintas sektor juga dinilainya penting, melibatkan pemerintah daerah, sekolah, aparat hukum, hingga lembaga masyarakat.
“Yang paling penting, jangan sampai kasus kekerasan terhadap anak dianggap hal biasa. Setiap laporan harus ditindaklanjuti karena menyangkut masa depan generasi kita,” tegasnya.
Ia berharap, dengan perhatian bersama, angka kekerasan anak di Anambas bisa ditekan seminimal mungkin.
“Anak adalah aset bangsa. Tugas kita semua melindungi mereka agar tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia,” pungkasnya. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO