Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Paparan radiasi Cesium-137 di kawasan industri modern Cikande, Banten, kian mengkhawatirkan. Jumlah titik pusat radiasi bertambah, sementara sejumlah pekerja di kawasan itu dipastikan terpapar zat radioaktif berbahaya.
Pemerintah membentuk satuan tugas khusus di bawah komando Menko Pangan Zulkifli Hasan. Menteri Lingkungan Hidup (LHK) Hanif Faisol Nurofiq ditunjuk sebagai ketua harian satgas.
Ditemui di Jakarta, Selasa (1/10), Hanif menyatakan, kasus Cikande ditetapkan sebagai Status Keadaan Khusus. Penanganan dilakukan bersama sejumlah lembaga, mulai dari KLHK, BRIN, Bapeten, Gegana Brimob, Kemenkes, hingga instansi terkait lainnya.
Untuk pengamanan, pemerintah memasang sembilan detektor radiasi portabel serta membangun radiation portal monitoring (RPM) di kawasan tersebut. Pengelola kawasan industri juga diwajibkan ikut bertanggung jawab.
Hanif menyebut, hasil pemetaan terbaru menunjukkan titik radiasi terus bertambah. “Awalnya enam titik, sekarang sudah menjadi 10 titik,” katanya.
Selain penyisiran, tim gabungan melakukan dekontaminasi, remediasi, hingga pemulihan kesehatan masyarakat. Tercatat sembilan pekerja terpapar Cesium-137. Pemerintah telah mendatangkan obat khusus dari Singapura untuk menangani kasus tersebut.
Barang-barang yang terkontaminasi sementara disimpan di Metal Indo Technology sebelum dipindahkan ke fasilitas penyimpanan permanen sesuai standar Badan Atom Dunia (IAEA). Langkah ini krusial karena usia paruh Cesium-137 mencapai 30 tahun, sebelum meluruh menjadi Barium-137.
Hanif menuturkan, penanganan dilakukan serius mengingat dampaknya terhadap keselamatan manusia hingga perdagangan internasional. Kasus ini awalnya terungkap setelah badan pengawas makanan AS menarik produk udang beku dari Indonesia yang diolah di Cikande, karena terkontaminasi Cesium-137.
Dalam laporan terbaru, bukan hanya udang beku, tetapi juga produk cengkeh Indonesia yang diduga terpapar Cesium-137 di AS.
Hanif belum menjelaskan detail, namun menyebut tim sudah melakukan inspeksi di salah satu fasilitas pengolahan cengkeh di kawasan Surabaya. Pemeriksaan turut melibatkan Tim KBR (Kimia, Biologi, dan Radioaktif) Gegana Brimob, yang memiliki tenaga ahli nuklir dari berbagai perguruan tinggi.
“Tim KBR Brimob mendampingi inspeksi karena mereka punya spesialisasi dalam penanganan radiasi,” ujar Hanif. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : FISKA JUANDA