Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Sejumlah catatan peristiwa memengaruhi kinerja neraca dagang Indonesia pada Agustus 2025. Seperti tren harga komoditas global serta aktivitas manufaktur negara mitra dagang utama.
Secara umum harga komoditas pasar global bervariasi. Kenaikan harga secara bulanan dan tahunan terjadi pada kelompok pertanian serta logam mulia. Peningkatan harga komoditas pertanian didorong oleh harga kakao, kopi, dan minyak.
Sebaliknya, harga komoditas energi, logam, dan mineral mengalami penurunan. Seperti harga komoditas batu bara yang turun 0,66 persen secara bulanan dan 23,06 persen secara tahunan. Di sisi lain, harga minyak kelapa sawit mengalami kenaikan cukup signifikan. Yakni 5,08 persen month-to-month (MtM) dan 10,01 persen year-on-year (YoY).
Aktivitas manufaktur di negara mitra dagang utama juga menunjukkan kondisi yang relatif ekspansif. Purchasing managers’ index (PMI) manufaktur India di level 59,3. Lalu Amerika Serikat (AS) sebesar 53 dan Tiongkok 50,5. Hanya Jepang yang berada di zona kontraksi sebesar 49,7.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, kinerja ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan positif. Nilai ekspor tercatat mencapai USD 185,3 miliar. Meningkat 7,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
”Nilai ekspor migas tercatat USD 9,04 miliar atau turun 14,14 persen. Nilai ekspor non-migas tercatat naik sebesar 9,15 persen dengan nilai USD 176,09 miliar,” Deputi bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) M. Habibullah di kantornya, Rabu (1/10).
Jika dilihat menurut sektor, lanjut dia, peningkatan nilai ekspor non-migas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan dan pertanian. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan Indonesia ekspor non-migas Januari hingga Agustus 2025 dengan andil sebesar 12,26 persen.
”Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar yaitu minyak kelapa sawit, logam dasar bukan besi, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, barang perhiasan dan barang berharga serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya,” jelasnya.
Dari sisi negara dan kawasan tujuan utama ekspor, nilai ekspor non-migas ke Tiongkok tercatat USD 40,44 miliar USD. Naik sebesar 8,68 persen dibandingkan periode Januari-Agustus 2024. Ekspor ke AS, kawasan ASEAN, dan Uni Eropa juga mengalami peningkatan. Sementara ekspor ke India justru mengalami penurunan.
Pada Agustus 2025 nilai ekspor mencapai USD 24,96 miliar atau naik 5,78 persen YoY. Nilai ekspor migas tercatat senilai USD 1,07 miliar atau turun 10,88 persen. Sedangkan, nilai ekspor non-migas naik 6,68 persen dengan nilai USD 23,89 miliar.
BPS mencatat peningkatan nilai ekspor Agustus 2025 secara tahunan, terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor non-migas. Yaitu pada komoditas lemak dan minyak hewan nabati naik 51,07 persen dengan andil 5,18 persen. Lalu disusul logam mulia dan perhiasan yang naik sebesar 34,76 persen dengan andil 1,02 persen.
”Selanjutnya adalah nikel dan barang daripadanya naik sebesar 35,34 persen dengan andil 0,98 persen,” kata Habibullah.
Adapun total nilai impor Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2025 mencapai USD 155,99 miliar, naik 2,05 persen YoY. Rinciannya, nilai impor migas tercatat senilai USD 21,11 miliar atau turun 12,82 persen YoY. Serta nilai impor non-migas tercatat USD 134,88 miliar atau naik 4,85 persen.
”Jika kita lihat menurut penggunaan, secara kumulatif peningkatan nilai ekspor terjadi pada barang modal,” bebernya. (*)
Reporter : JP Group
Editor : GUSTIA BENNY