Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Batuk yang tak kunjung reda kerap dianggap sepele. Padahal, gejala itu bisa menjadi tanda tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang hingga kini masih menjadi ancaman di Kota Batam.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, hingga September 2025 terdapat 3.164 pasien positif TBC yang sedang dalam pengobatan. Angka ini setara 42,7 persen dari 7.409 warga yang telah menjalani skrining TBC.
“Kalau gejala dikenali sejak awal, peluang sembuh akan lebih tinggi. TBC bisa diobati, asalkan pasien disiplin minum obat sesuai aturan,” ujar Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, Rabu (1/10).
Dari total kasus, sebanyak 3.132 pasien masih sensitif terhadap obat standar, sementara 32 pasien lainnya sudah mengalami resistensi obat. Mayoritas merupakan pasien baru dengan sebaran di kawasan padat penduduk, tempat penularan lebih mudah terjadi melalui udara.
TBC biasanya mulai disadari setelah batuk tak sembuh-sembuh, napas terasa sesak, hingga berat badan menurun drastis. Banyak pasien terlambat ditangani karena menganggapnya flu biasa atau menunda pemeriksaan medis.
Untuk memperkuat penanganan, Dinkes Batam menyiapkan 20 puskesmas, 19 rumah sakit, dan 13 klinik swasta yang memberikan layanan TBC. Pasien juga diwajibkan menjalani terapi jangka panjang, minimal enam hingga delapan bulan. Bahkan, bagi penderita yang resisten obat, proses pengobatan bisa lebih lama.
“Keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien. Jika terhenti, risikonya resistensi obat dan penyakit semakin sulit disembuhkan,” kata Didi.
Selain fasilitas kesehatan, keluarga turut dilibatkan untuk memastikan pasien disiplin menelan obat setiap hari. Edukasi juga terus digencarkan agar masyarakat lebih peka terhadap gejala awal.
“Batuk kronis, sesak napas, dan penurunan berat badan harus segera diperiksakan. Jangan tunggu parah, semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan sembuh,” tegasnya.
Dengan kasus yang masih tinggi, TBC tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan masyarakat Batam. Namun dengan kesadaran bersama, penyakit ini bisa ditekan dan pasien memiliki harapan sembuh penuh. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK