Buka konten ini
BATAM (BP) – Guru kini tidak lagi dipandang sekadar pengajar, melainkan juga pembimbing karakter. Pesan itu ditegaskan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), sebuah inovasi pendidikan yang menekankan kasih sayang, empati, dan penghormatan antarsesama.
Kepala Kemenag Batam, Budi Dermawan, menjelaskan KBC menempatkan guru sebagai garda depan dalam membentuk iklim pendidikan yang ramah, aman, dan bebas dari kekerasan. Guru dituntut tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan siswa.
“Guru harus mampu menjadi teladan. Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga mendampingi siswa membangun karakter. KBC hadir untuk memperkuat peran itu,” ujarnya, Senin (29/9).
Implementasi KBC tidak berhenti pada teori di kelas. Kurikulum ini akan diterapkan lewat aktivitas yang menumbuhkan kebersamaan, seperti permainan kelompok, simulasi pemecahan masalah, hingga kegiatan spiritual berupa pengajian dan istighatsah.
“Metode ini memberi ruang kepada guru untuk lebih dekat dengan siswa. Dari kedekatan itulah nilai empati, kepedulian, dan gotong royong bisa tumbuh,” tambah Budi.
Sebagai tahap awal, Kemenag Batam akan menerapkan KBC di dua sekolah berasrama, yakni MAN 1 Batam dan MTsN 1 Batam, pada tahun ajaran 2025/2026. Sekitar 50 siswa asrama menjadi fokus pembinaan intensif karena interaksi harian dinilai lebih efektif membentuk karakter.
“Lingkungan asrama sangat tepat untuk memulai. Guru bisa melihat langsung perkembangan siswa, bukan hanya saat belajar di kelas, tetapi juga dalam keseharian,” jelasnya.
KBC merupakan gagasan Kemenag RI yang menekankan tiga relasi utama: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan lingkungan. Konsep ini diharapkan tidak hanya menekan angka perundungan, tetapi juga melahirkan generasi muda yang utuh—cerdas secara intelektual sekaligus matang secara emosional dan spiritual.
“Pendidikan bukan sekadar mencetak siswa pintar. Pendidikan harus melahirkan pribadi berkarakter, penuh empati, dan menghargai orang lain. Guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan itu,” tegas Budi.
Kemenag Batam optimistis, keberhasilan tahap awal KBC di dua sekolah berasrama akan menjadi model bagi lembaga pendidikan lain, bahkan hingga tingkat nasional. Dengan guru sebagai motor penggerak, kurikulum ini diharapkan melahirkan ekosistem pendidikan yang lebih humanis dan penuh cinta. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK