Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Suasana baru terasa di Piabung, Kabupaten Kepulauan Anambas, Senin (29/9). Satu dapur umum Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi beroperasi untuk melayani kebutuhan pelajar di dua kecamatan, Palmatak dan Kute Siantan. Kehadiran dapur ini menjadi angin segar bagi ribuan anak sekolah yang kini mendapat jaminan asupan gizi setiap hari.
Sebelum dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu berjalan, Yayasan Encek Adjak selaku pengelola sempat menggelar sosialisasi bersama orang tua siswa. Tujuannya agar mereka paham mekanisme dapur umum MBG. Namun, forum tersebut juga memunculkan sejumlah masukan, terutama terkait aturan soal kejadian luar biasa (KLB).
“Kami hanya minta satu hal, jangan ada yang ditutup-tutupi. Kalau anak-anak sakit perut setelah makan, kami ingin diberi tahu secara terbuka, bukan menunggu instruksi MBG dulu,” tegas Deri Redi, perwakilan orang tua siswa. Menurutnya, keterbukaan menjadi kunci agar program ini bisa berjalan dengan baik.
Menanggapi hal itu, Humas SPPG Piabung, Hendri, menjelaskan bahwa aturan pelaporan KLB merupakan bagian dari SOP Badan Gizi Nasional (BGN). “Kalau ada kejadian, laporan harus masuk ke kami dulu supaya jelas alurnya. Apakah masalah di dapur atau di pengelolaan,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, Hendri menuturkan setiap pengiriman makanan ke sekolah disertai formulir pengaduan. Jika ada temuan makanan basi, sekolah bisa segera melapor dan pihaknya akan langsung mengganti dengan yang baru. “Intinya, koordinasi dengan sekolah akan terus kami perkuat,” tambahnya.
Pada tahap awal, dapur umum Piabung menyiapkan 1.008 porsi makanan per hari yang didistribusikan ke enam sekolah. Jumlah itu masih di bawah pengajuan awal sebanyak 2.000 porsi. “BGN ingin melihat dulu kemampuan dapur dalam satu minggu ini. Kalau konsisten dan layak, porsi akan ditambah,” jelas Hendri.
Ia menegaskan, MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi memastikan gizi anak-anak tetap seimbang. “Bukan asal kenyang, tapi harus bergizi. Kami ingin anak-anak kuat, sehat, dan belajar dengan semangat,” ujarnya.
Meski masih ada perdebatan soal keterbukaan informasi, keberadaan dapur umum baru ini tetap disambut positif banyak orang tua. Mereka berharap program MBG di Anambas tidak hanya aman dan sehat, tetapi juga transparan dalam setiap prosesnya.
SPPG Diminta Jaga Kualitas Makanan
Sementara itu, Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, menekankan pentingnya menjaga kualitas dan kebersihan produksi makanan di SPPG. Ia mengingatkan agar insiden keracunan yang pernah terjadi di Batam dan Karimun tidak terulang di Anambas.
“Keselamatan anak-anak lebih penting dari apapun. Setiap detail, mulai dari bahan, dapur, hingga proses produksi, harus diperhatikan. Jangan ada kelalaian sekecil apapun,” tegasnya.
Aneng juga menugaskan Dinas Kesehatan untuk mengawasi penuh jalannya dapur MBG, mulai dari produksi, penyimpanan bahan, hingga pembuangan limbah. “Kita tidak ingin ada celah. Dinkes harus kontrol penuh supaya makanan benar-benar sehat dan aman,” katanya.
Saat ini, Anambas sudah memiliki dua SPPG lain di Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, dan Desa Candi, Kecamatan Palmatak. Total, ada 1.557 pelajar yang kini menjadi penerima manfaat program gizi dari pemerintah pusat itu.
“Program pemenuhan gizi ini adalah amanah besar. Jangan hanya mengejar target produksi, tapi lupakan kualitas. Makanan yang diberikan harus memenuhi standar gizi, sehat, dan bersih,” tutup Bupati Aneng. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO