Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Sekitar 200 perempuan yang terdiri dari ibu-ibu menggelar aksi damai di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (27/9).
Peserta aksi, terpantau memukul panci dan berbagai perkakas dapur sebagai bentuk protes terhadap kebijakann program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan banyak siswa keracunan yang semakin masif di berbagai daerah.
Dilansir dari akun Instagram Suara Ibu Indonesia, aksi yang diberi tajuk “Kenduri Suara Ibu Indonesia” ini menyuarakan lima tuntutan.
Pertama, menghentikan program MBG. Kedua, meminta pertanggungjawaban atas keracunan massal. Ketiga, pembentukan tim pencari fakta untuk mengusut kasus keracunan massal. Keempat, mengusut dugaan korupsi di program MBG. Terakhir, pengembalian peran pemenuhan gizi anak ke komunitas dan daerah.
Seorang peserta aksi sekaligus Dosen Sosiologi UGM, Nurul Aini, menyebut program MBG ini berpotensi jadi lahan subur praktik korupsi. Aini pun menyebut saat ini risiko program MBG jauh lebih besar ketimbang manfaat yang didapat.
“Lagi pula, MBG itu enggak gratis ya. Itu dibayar dari pajak rakyat. Jadi harus akuntabel, kalau itu enggak bisa ditunjukkan akuntabilitas atau transparansinya, ya lebih baik dihentikan,” ujar Nurul Aini dilansir dari Instagram Social Movement Institute.
Aksi yang berlangsung kondusif ini juga diwarnai dengan poster-poster protes yang unik. Salah satu poster bertuliskan “Masakan ibuku lebih enak”, ada pula “MBG: Makan Beracun Gratis.”
Menurut data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), total 6.452 anak telah menjadi korban keracunan MBG hingga 21 September 2025. Kian bertambahnya korban keracunan membuat masyarakat khawatir dan berharap, program ini dievaluasi lagi sebelum benar-benar diluncurkan.
Kualitas makanan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendapat sorotan dari ahli gizi dan viral di media sosial (medsos).
Terpisah, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengakui kekurangan tenaga ahli gizi berpengalaman. Kondisi itu memang menjadi tantangan serius saat ini bagi BGN yang menjalani program makan bergizi gratis (MBG).
“Kalau dari kami, tadi kan sudah jelas soal ahli gizi, ahli ini di kami. Saya sekaligus umumkan mau mencari yang berpengalaman. Yang tidak berpengalaman saja, kami sekarang kekurangan. Jadi saya umumkan lagi, silakan para ahli gizi se-Indonesia untuk mendaftar ke dapur-dapur MBG, dapur SPPG. Karena kami kekurangan ahli gizi. Lebih senang lagi kalau yang sudah berpengalaman,” kata Nanik.
Dia menjelaskan, hampir seluruh ahli gizi yang ada sudah terserap di sekolah-sekolah sehingga pihaknya harus merekrut tenaga baru. Nanik mengaku saat ini pihaknya sudah kehabisan stok tenaga ahli gizi.
”Karena sekarang kami sudah kehabisan, sudah kehabisan stok nih yang di sekolah-sekolah semua sudah terserap. Nah, kalau memang dari DPR merekomendasikan kami, kami harus ngambil di mana, kami akan ambil. Karena kalau kami mau, ada pilihannya, kami mau semua yang berpengalaman. Masalahnya tidak ada. Jadi yang ada baru-baru itulah yang kami rekrutkan,” ujarnya.
Meski demikian, Nanik menekankan pentingnya memberi kepercayaan kepada generasi muda yang kini sudah banyak direkrut sebagai ahli gizi di dapur MBG. Ia juga meminta publik tidak serta-merta meragukan kemampuan tenaga ahli gizi muda.
“Bismillah, Insya Allah kita percaya juga anak-anak muda. Jangan enggak kita percaya, kesian mereka. Saya lihat mereka belajar benar kok. Kalau ada salah-salah, mari kita perbaiki. Tapi kasih kesempatan mereka juga untuk bisa bekerja di dapur-dapur MBG. Daripada dia menganggur gitu,” pungkas Nanik. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Alfian Lumban Gaol