Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Benjamin Netanyahu tampil di Sidang Umum PBB dengan nada penuh tantangan, Jumat (26/9). Perdana Menteri Israel itu mengecam para pengkritiknya yang disebutnya ’lemah’ dan bersumpah melanjutkan perang hingga musuh Israel hilang dari muka bumi.
“Banyak dari mereka yang berperang melawan Israel hari ini akan lenyap besok,” ujar Netanyahu di podium.
Namun alih-alih mendapat tepuk tangan meriah, puluhan diplomat memilih berdiri dan keluar dari ruang sidang. Sorakan bercampur dengan tepuk tangan pendukungnya yang duduk di balkon atas, menciptakan suasana panas di aula megah PBB.
Pidato tahunan itu datang di tengah momentum pengakuan negara Palestina oleh sejumlah kekuatan besar Barat seperti Prancis, Inggris, dan Kanada.
Mereka mendesak diakhirinya kampanye militer Israel yang kian menghancurkan Gaza, membuat sistem kesehatan di wilayah itu ambruk dan warga sipil berbondong-bondong melarikan diri.
Netanyahu menepis desakan itu. Ia mengeklaim “sisa-sisa terakhir Hamas bersembunyi di Gaza City” dan bahwa Israel “harus menyelesaikan pekerjaan itu.”
Ia juga menyebut Israel menghadapi “perang tujuh front” melawan Iran, Yaman, Lebanon, hingga Gaza, sembari membanggakan capaian militernya.
Uniknya, Netanyahu tak hanya berpidato untuk forum dunia. Kantornya mengklaim telah menempatkan pengeras suara di sepanjang perbatasan Gaza dan bahkan menguasai jaringan ponsel agar warga Palestina mendengar langsung pidatonya.
Namun, warga Gaza yang dihubungi media internasional mengatakan tidak mendengar apa pun. “Menyuarakan pidato Netanyahu lewat pengeras suara di atas tank dan kendaraan militer hanyalah bukti sadismenya,” sindir pejabat Hamas, Taher al-Nunu.
Isi pidato Netanyahu sebagian besar menyerang balik kritik Barat dan media yang menyoroti tingginya korban sipil serta ancaman kelaparan di Gaza. Semua tudingan itu, menurutnya, hanyalah ’kebohongan fitnah’ yang digerakkan oleh ’antisemitisme’.
Ia juga menegaskan, pengakuan negara Palestina bukanlah sesuatu yang akan pernah diterima Israel. “Israel tidak akan membiarkan kalian memaksakan negara teror di tenggorokan kami,” kata Netanyahu.
Namun, gambarannya jelas: lebih dari 100 diplomat meninggalkan aula, meninggalkan kursi-kursi kosong sebagai simbol protes dunia. Jeremy Ben-Ami, Presiden kelompok pro-Israel liberal J Street di AS, menilai pemandangan itu sebagai cerminan isolasi Netanyahu.
“Kehampaan aula itu adalah simbol memalukan dari keterasingan yang ia ciptakan untuk dirinya dan Israel. Retorika perang tanpa akhir yang ia lontarkan sama sekali tidak menunjukkan empati pada penderitaan Gaza,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Alfian Lumban Gaol