Buka konten ini

Di sebuah ruang kos sepetak di Batam, mimpi besar lahir dari tangan kecil seorang perempuanberusia 23 tahun.

2. pembeli di stand WTB, Agustus 2025.
3. berbagai lukchup buatan Sephia.
Alvira Veronica Amanda, yang akrab disapa Sephia, memulai perjalanannya merintis usaha camilan Lukchup, kudapan mini warna-warni asal Thailand, dari ketertarikannya pada sebuah tren di TikTok.
“Awalnya karena fomo, dan kebetulan saya suka sekali kacang hijau, jadi suka ngiler kalau lewat FYP. Tapi waktu itu di Batam belum ada yang jualan,” ujar Sephia, mengenang awal mula ide usahanya.
Lukchup adalah hidangan penutup yang terinspirasi dari Marzipan Portugis. Terbuat dari kacang hijau yang dikupas, dikukus, dihaluskan bersama santan dan gula, kemudian dibentuk dan dicelup ke agar-agar plain, camilan ini memiliki tekstur lembut dan rasa yang mirip isi onde-onde atau bakpia.
“Awalnya bentuknya belum maksimal, tapi enak. Dari situ saya terus perbaiki bentuk dan warnanya, lalu iseng posting di WhatsApp story. Ternyata banyak yang penasaran dan ingin mencoba,” ungkap Sephia sambil terkekeh.
Sephia pun mulai membuka Pre-Order (PO) sejak April 2025. Dari produksi di sela waktu kosong, camilannya mulai ramai peminat. Video TikTok yang diunggahnya pun viral, memicu lonjakan orderan dan saran untuk membuka stand.
Dia menekuni usaha ini sepenuhnya otodidak, tanpa kursus, hanya bermodalkan tutorial dari TikTok. Bahan-bahan pun mudah ditemukan di pasar-pasar Batam, seperti kacang hijau kupas, gula, santan, pewarna makanan, dan agar-agar bening.
Lukchup yang dijual Sephia memiliki variasi isi, ada kacang hijau original, ada juga buah asli seperti strawberry dan anggur muscat. Harga per bijinya cukup terjangkau, mulai dari Rp8 ribu hingga Rp100 ribu untuk birthday Lukchup ukuran 15 cm.
Setiap hari, Sephia membuat Lukchup dari rumahnya di Perumahan Cluster Mawar, Botania Blok EE 05, dengan layanan pengantaran melalui Go-Send atau Maxim. Di akhir pekan, ia bersama suami membuka stand di Bundaran Welcome to Batam (WTB), menjual 2–3 kg Lukchup mulai pukul 18.30 hingga habis.
Modal awal yang diperlukan pun relatif kecil, sekitar Rp100 ribu untuk bahan-bahan dasar. Namun omzetnya bisa menggiurkan, hingga Rp1,8 juta per hari saat jualan di stand.
Sephia mengingat masa-masa awal yang penuh perjuangan: kos sempit, tanpa kulkas, hingga banyak pesanan yang terbuang karena cepat basi. “Alhamdulillah sekarang sudah bisa beli kulkas satu pintu dan kontrak rumah sendiri,” ujarnya.
Bagi generasi Z seperti Sephia, waktu adalah investasi. Ia menekankan pentingnya memahami bakat, konsisten, dan optimis. “Kalau mimpinya besar, egonya harus kecil,” katanya.
Ke depannya, Sephia berharap bisa membuka stand di lebih banyak tempat, mengikuti bazar, dan menjaring reseller. Tak hanya untuk bisnisnya sendiri, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Dari ruang sepetak hingga stand di Bundaran Batam, perjalanan Sephia menjadi bukti bahwa ketekunan, kreativitas, dan keberanian memulai dari yang kecil bisa menghasilkan manisnya kesuksesan. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : JAMIL QASIM