Buka konten ini

KENYATAANYA, tidak semua pria yang tampak manis di awal akan tetap manis di akhir. Beberapa pria hanya berpura-pura baik untuk mendapatkan kepercayaan seseorang yang membuatnya tertarik.
Meski demikian, topeng ini hanya butuh waktu untuk terungkap, pria yang kurang baik perlahan akan menunjukkan sisi aslinya setelah hubungan berkembang.
Lantas, apa tanda yang bisa dipahami untuk menghindari pria yang berpura-pura baik di awal perkenalan? Yaps, agar Anda tidak terjebak dalam kepalsuan, simak informasi berikut ini.
Dilansir dari Geediting.com, inilah delapan tanda berikut ini adalah peringatan dini yang patut diwaspadai oleh siapa pun, terutama wanita yang baru mengenal seseorang.
Jangan takut untuk mengambil waktu untuk mengenali seseorang lebih dalam, namun tetap percayalah pada insting Anda jika merasa ada yang ”tidak beres”.
Sebagai informasi, hubungan yang sehat dibangun atas dasar kejujuran, empati, dan konsistensi. Jadi, jangan hanya puas dengan pesona di permukaan, carilah kedalaman yang nyata.
Sebab, tidak semua pria yang terlihat ramah dan baik di awal perkenalan benar-benar memiliki niat yang tulus. Banyak dari mereka ternyata menyembunyikan sifat manipulatif dan toksik di balik sikap sopan dan menawan.
Dalam dunia psikologi, ini disebut sebagai false charm, sebuah strategi sosial untuk mendapatkan kepercayaan sebelum menunjukkan sifat aslinya.
Untuk melindungi diri Anda dari hubungan yang merugikan, berikut ini adalah 8 tanda untuk mengenali bahwa seorang pria hanya berpura-pura baik.
1. Sanjungan yang Berlebihan: Bukan Tulus, tapi Manipulatif
Siapa yang tidak senang menerima pujian? Tapi, ketika pujian itu terasa berlebihan dan datang terlalu cepat di awal hubungan, itu bisa menjadi sinyal bahaya.
Pria yang berpura-pura baik sering menggunakan sanjungan sebagai alat manipulasi untuk membangun rasa percaya diri Anda, bukan karena mereka benar-benar mengagumi Anda, tapi untuk membuat Anda ketergantungan pada validasi mereka.
Menurut psikologi hubungan, love bombing (memberi pujian dan perhatian berlebihan secara cepat) sering kali adalah tanda dari individu yang manipulatif. Mereka ingin Anda merasa spesial, agar lebih mudah dikendalikan nantinya.
2. Kesepakatan yang Konstan: Selalu Setuju untuk Mencuri Simpati
Apakah dia selalu setuju dengan semua yang Anda katakan, bahkan dalam topik yang kompleks atau kontroversial?
Pria yang terlalu sering mengangguk tanpa opini pribadi bisa jadi tidak sedang tulus.
Kesepakatan yang konstan sering kali merupakan cara untuk mendapatkan kepercayaan Anda dengan cepat, bahkan jika itu berarti berpura-pura.
Dalam jangka panjang, hubungan sehat dibangun atas perbedaan dan saling menghargai perspektif. Jika seseorang selalu “ya” pada segala hal, mungkin dia hanya sedang memainkan peran, bukan menjadi dirinya sendiri.
3. Bantuan yang Tidak Berbalas
Awalnya dia selalu sigap membantu, mengantar, menjemput, memberi hadiah, atau menyelesaikan masalah Anda. Tapi lambat laun, bantuan itu tampaknya dibarengi dengan tuntutan, rasa bersalah, atau ekspektasi balasan.
Psikologi menyebut ini sebagai bentuk “kebaikan bersyarat”. Jika seorang pria hanya memberi untuk mendapatkan sesuatu kembali, maka kebaikannya bukanlah keikhlasan, melainkan strategi untuk mengontrol Anda secara emosional.
4. Pesona yang Berlebihan
Pria seperti ini biasanya sangat pandai bersikap. Mereka tahu bagaimana tampil menarik, tahu harus bicara apa, dan seolah selalu tahu waktu yang tepat.
Tapi hati-hati, overcharming atau terlalu memesona bisa menjadi tanda seseorang sedang menyembunyikan sifat aslinya.
Psikologi kepribadian menyebut bahwa manipulatif narcissist sering kali memiliki pesona yang sulit ditolak di awal.
Namun, setelah kepercayaan terbentuk, wajah asli mereka mulai muncul — penuh ego, tuntutan, dan ketidakseimbangan dalam hubungan.
5. Kurangnya Empati: Peduli di Permukaan, tapi Tidak di Dalam
Meskipun tampak peduli, pria seperti ini sering gagal menunjukkan empati sejati ketika Anda sedang sedih, stres, atau kecewa.
Mereka cenderung merespons dengan minim kepedulian atau malah mengalihkan topik. Pria yang berpura-pura baik hanya menunjukkan perhatian saat semuanya menyenangkan.
Ketika Anda butuh dukungan emosional, mereka menghilang atau menunjukkan sikap dingin. Psikologi menyebut ini sebagai kurangnya emotional attunement, yang berbahaya dalam hubungan jangka panjang.
6. Kemarahan yang Terkendali: Tersenyum di Luar, Tapi Memendam Amarah
Pria seperti ini jarang marah secara terang-terangan, tetapi saat merasa terganggu, mereka menunjukkan kemarahan secara pasif, misalnya dengan diam, menyindir, atau memanipulasi.
Mereka tersenyum, tapi Anda bisa merasakan energi negatif yang tersembunyi. Dalam psikologi perilaku, ini dikenal sebagai passive-aggressive behavior — bentuk kemarahan yang terselubung namun merusak.
Alih-alih mengungkapkan emosi secara sehat, mereka memilih menekan atau memanipulasi suasana.
7. Perilaku Tidak Konsisten: Hari Ini Baik, Besok Dingin
Hari ini dia penuh perhatian, tapi besok tiba-tiba dingin. Perubahan mood dan sikap yang tidak menentu sering kali menjadi tanda bahwa kebaikannya hanya bersifat strategis, bukan natural.
Psikologi menyebut ini sebagai hot and cold behavior, salah satu taktik manipulatif untuk membuat Anda merasa bingung dan tidak stabil.
Pria seperti ini menciptakan ketergantungan emosional dengan menarik-ulur perhatian mereka.
8. Kurangnya Hubungan yang Tulus: Tidak Ada Koneksi Emosional yang Dalam
Meskipun tampak dekat secara fisik atau verbal, pria seperti ini sering kali tidak membangun koneksi emosional yang kuat.
Mereka tidak benar-benar ingin tahu tentang impian Anda, ketakutan Anda, atau hal-hal yang membentuk diri Anda. Hubungan semacam ini cenderung dangkal, dibangun di atas kesan luar, bukan kedalaman batin.
Psikologi menekankan bahwa hubungan yang sehat memerlukan emotional intimacy, bukan sekadar chemistry fisik atau basa-basi manis. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ALFIAN LUMBAN GAOL