Buka konten ini

BINTAN (BP) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, tengah jadi sorotan. Pemicunya, menu yang disajikan di salah satu sekolah dinilai terlalu minimalis hingga viral di media sosial.
Seorang warganet berinisial BK, Selasa (23/9), mengunggah foto sepiring nasi dengan lauk sayur wortel, tempe, ikan teri, dan sepotong semangka. Menu itu dianggap jauh dari standar gizi anak sekolah dan langsung menghebohkan jagat maya.
Kolom komentar pun penuh kritik. Ada yang menilai menunya tak layak disebut bergizi, ada pula yang mengaku kaget sekaligus tak percaya. Beberapa orangtua bahkan mengonfirmasi langsung kepada anaknya.
Seorang siswa SD di Seri Kuala Lobam membenarkan bahwa menu hari itu memang sama dengan yang beredar. “Makan semangkanya saja,” ucap seorang siswa polos.
Keluhan juga datang dari orangtua murid. Inay, salah satunya, mengaku prihatin. Ia tetap menyiapkan bekal tambahan dari rumah lantaran menilai porsi dan kualitas menu kurang memadai.
Kepala SPPG Seri Kuala Lobam, Gilang Restu Aji, tak menampik bahwa menu pada 23 September memang menggunakan ikan teri sebagai protein hewani, serta tempe dan kacang tanah sebagai protein nabati. “Kebetulan yang difoto itu untuk pemorsian Rp8.000 bagi siswa kelas 1 sampai 3 SD,” jelasnya, Rabu (24/9).
Ia menjelaskan, anggaran MBG terbagi dua kategori: Rp8.000 untuk TK hingga kelas 3 SD, dan Rp10.000 untuk kelas 4 SD hingga SMA. Meski begitu, Gilang mengaku viralnya menu sederhana tersebut menjadi bahan evaluasi. “Saya memohon maaf dan tidak akan mengulanginya,” tegasnya.
Dapur Perdana SPPG di Lingga
Berbeda dengan Bintan, Kabupaten Lingga justru meresmikan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pertama, Selasa (23/9), di Dabo Singkep. Peresmian dilakukan Ketua Dekranasda Lingga, Feby Sarianty.
Dapur ini menjadi bagian dari implementasi Program MBG untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Bekerja sama dengan Yayasan Lintas Bangsa, dapur direncanakan mulai beroperasi Senin (29/9). Pada tahap awal, layanan menjangkau 3.131 anak, lalu meningkat menjadi 3.776 anak pada pekan berikutnya, meliputi TK, PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK.
“Insya Allah, semua berjalan sesuai rencana pada 29 September mendatang,” ujar Kepala Dapur SPPG Lingga, Haryandi. Sebanyak 49 tenaga disiapkan, mulai dari produksi hingga distribusi makanan bergizi.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Lingga, dr Bukit Tua Rayanto Gultom, menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah. “Program ini bukan sekadar pemenuhan gizi, tetapi investasi untuk membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” tegasnya.
Dapur SPPG dikelola dengan standar ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak higienis, hingga pengemasan aman. Selain menekan stunting, dapur ini juga diharapkan menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan petani, UMKM, dan pedagang sekitar.
Karimun Masih Menunggu
Sementara itu, di Kabupaten Karimun, Program MBG belum merata. Kecamatan Selat Gelam, misalnya, hingga kini belum mendapat jatah meski program sudah berjalan di beberapa wilayah.
Camat Selat Gelam, Indra Sulaiman, mengatakan, pihaknya sudah meninjau lokasi dapur yang direncanakan di Desa Parit II. Lokasi ini dipilih karena dekat pelabuhan sekaligus aman dari ancaman angin kencang.
“Informasi yang kami terima, MBG akan segera dilaksanakan untuk pelajar di Selat Gelam. Tidak menutup kemungkinan bulan depan sudah berjalan,” ujarnya, Rabu (24/9).
Selat Gelam sendiri terdiri atas dua pulau, Parit dan Tulang, dengan empat SD, dua TK, dan dua SMP. Untuk SMA, para pelajar masih menumpang ke daerah lain. “Total ada 517 pelajar dari TK hingga SMA, belum termasuk anak-anak PAUD,” jelas Indra. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO – VATAWARI – Sandi Pramosinto
Editor : GALIH ADI SAPUTRO