Buka konten ini

Ada satu taman kota di Tanjungpinang yang penuh kenangan masa lalu. Bagi anak muda Tanjungpinang era 1990-an hingga awal 2000-an, taman ini bukan sekadar ruang terbuka, melainkan tempat kenangan. Dari bangku beton yang sederhana, tangga, seluncuran beton, pepohonan yang jadi saksi, hingga canda tawa remaja yang mengisi hari, semuanya melekat kuat di ingatan.
SEBELUM hadirnya kafe-kafe modern, pusat hiburan, dan ruang terbuka bergaya kekinian di Tanjungpinang, ada satu tempat yang begitu lekat di hati khususnya bagi anak muda era 1980-an hingga awal 2000-an. Tempat nongkrong legendaris itu adalah Taman Bestari.
Sebuah taman kota dan ruang terbuka hijau yang dahulunya menjadi titik kumpul, tempat santai hingga menjadi tempat pertemuan komunitas.
Nama ”Bestari” berarti Bersih, Sehat, Tertib, Aman, Ramah, dan Indah. Bestari merupakan julukan Kota Tanjungpinang pada saat menjadi ibu kota Kabupaten Kepri. Taman ini berlokasi di pusat kota. Tepatnya berada di antara Jalan Hang Tuah dan Jalan Sultan Abdul Rahman Tanjungpinang.
Pada masa jayanya, Taman Bestari menjadi ruang terbuka hijau favorit anak muda. Bangku-bangku beton sederhana yang berjejer rapi, seluncuran (perosotan), tangga, rumput hijau, pepohonan rindang dan suasana sejuk, membuat taman ini menjadi lokasi pilihan untuk sekadar melepas penat.
Bagi anak muda generasi lama, Taman Bestari tidak hanya sekadar tempat duduk santai. Di sinilah anak muda berkumpul, berbagi cerita bahkan hingga merajut kisah asmara yang penuh kenangan.
“Dahulu kalau pulang sekolah dan malam minggu, taman ini ramai sekali. Anak muda banyak nongkrong di sini karena nyaman dan sejuk,” kenang Kamaruz (47), warga Tanjungpinang yang sempat menikmati masa remajanya di Taman Bestari.
Selain itu, kata Kamaruz, Taman Bestari yang cukup luas ini juga menjadi tempat pertemuan tidak terduga dengan teman kecil maupun sahabat lama dan tempat berkenalan dengan teman baru. “Kalau ingin bertemu kawan lama, cukup datang ke taman, pasti ada yang dikenal,” ungkapnya.
Kamaruz bercerita, pada masa lalu taman ini langsung berhadapan dengan tepi laut. Namun saat ini, pemandangan kapal-kapal yang melintas hingga matahari terbenam, tidak terlihat karena adanya pembangunan di sekitar tepi laut.
”Kalau dahulu pas saya kecil, taman ini berhadapan dengan Jalan Hang Tuah, depan jalan itu menghadap langsung ke tepi laut,” tuturnya.
Meskipun tidak lagi seramai masa lalu, Taman Bestari tetap menyimpan berbagai kenangan. Taman ini menjadi saksi perjalanan generasi muda Tanjungpinang. Dari sekadar nongkrong santai hingga lahirnya kisah-kisah yang kini hanya bisa dikenang.
Kini, jejak kejayaan Taman Bestari sebagai tempat nongkrong favorit, tempat olahraga dan jalan santai, hanya tinggal kenangan, meski namanya masih lekat di ingatan anak muda Tanjungpinang generasi lama. “Tempat bisa berubah, tapi kenangan tidak pernah hilang.Taman Bestari itu bagian dari cerita anak-anak muda Tanjungpinang di masa lalu,” kata Kamaruz.
Pamor Taman Bestari perlahan mulai meredup bahkan kini terlupakan. Munculnya pusat hiburan baru, kafe modern, hingga taman kota lain, membuat ruang terbuka hijau ini, terlupakan. Suasananya semakin sepi dan sunyi.
”Taman Bestari adalah tempat mengenang masa muda. Beberapa waktu lalu, kami ke sana. Sekarang kelihatannya sudah sepi dan sunyi,” sebut Kamaruz. Bagi sebagian anak muda generasi lama seperti Kamaruz, Taman Bestari layak mendapatkan perhatian. Pihak berwenang dapat memberi perhatian dengan melakukan perawatan fasilitas yang tersedia di Taman Bestari.
“Mungkin taman ini bisa dipercantik lagi, jogging trek diperbaiki, dilengkapi fasilitas seperti hotspot dan toilet, biar tempat ini ramai lagi seperti masa lalu,” harap Kamaruz.
Seiring berjalannya waktu, wajah Taman Bestari kian memudar dari ingatan. Kini, taman itu terlihat sepi, hanya sesekali dipenuhi aktivitas warga yang berolahraga pagi dan sore atau sekadar singgah mengenang masa lalu.
”Dahulu hampir setiap malam minggu kami duduk-duduk di sini bersama kawan-kawan. Rasanya meriah, banyak teman, dan penuh cerita,” kenang Richo (42), warga Tanjungpinang yang semasa SMA, menjadikan taman ini sebagai titik kumpul.
Meskipun tidak lagi menjadi magnet utama warga kota, menurut Richo, Taman Bestari tetap menyimpan nilai penting sebagai ruang terbuka hijau di tengah pesatnya pembangunan. Pepohonan yang masih berdiri kokoh memberikan oksigen dan kesejukan, sekaligus menjadi pengingat bahwa sebuah kota butuh lebih dari sekadar gedung-gedung beton.
Menurut Richo, pertanyaannya apakah Taman Bestari kembali menemukan napasnya sebagai ruang terbuka yang tetap hidup atau justru akan terus terlupakan. ”Sekarang hanya tersisa kenangan bagi generasi lama yang pernah merasakan kejayaan taman ini,” tutup Richo. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG