Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kerusuhan yang pecah pada Kamis (28/8) setelah aksi demonstrasi di penghujung Agustus lalu masih menyisakan banyak pertanyaan di masyarakat. Mengapa aksi protes tersebut bisa berakhir dengan korban jiwa?
Hasil survei Median memberi gambaran penyebab utamanya. Peneliti Senior Median, Rico Marbun, mengungkapkan bahwa gelombang unjuk rasa dipicu oleh dua faktor besar. Pertama, kebijakan dan perilaku anggota DPR yang dinilai arogan serta tidak peduli. Kedua, tekanan ekonomi yang semakin dirasakan masyarakat.
Dari survei tersebut, kenaikan gaji dan tunjangan DPR menjadi faktor paling dominan di balik maraknya aksi, yakni sebesar 30,2 persen. Faktor lain yang turut memperkuat kemarahan publik adalah perilaku arogan anggota DPR (9,8 persen), sikap tidak peduli terhadap rakyat (8,1 persen), serta kebijakan yang membebani kondisi ekonomi masyarakat (6,8 persen).
Selain itu, responden juga menyinggung soal kesulitan ekonomi (6,5 persen) dan meningkatnya kesenjangan (4,2 persen). Temuan ini, menurut Rico, menegaskan bahwa demonstrasi yang meluas merupakan akumulasi dari kekecewaan publik terhadap elite politik dan kondisi ekonomi yang makin menekan.
“Gelombang demonstrasi yang kita lihat beberapa waktu terakhir adalah hasil penumpukan kekecewaan masyarakat terhadap perilaku elit dan tekanan ekonomi yang berat,” kata Rico dalam konferensi pers Median yang digelar secara daring, Senin (22/9).
Survei Median juga menelusuri tuntutan yang paling melekat di ingatan publik dari aksi-aksi demonstrasi tersebut. Hasilnya, isu ekonomi dan akuntabilitas elite menjadi sorotan utama.
Ada tiga tuntutan yang paling banyak disebut responden, yakni penurunan gaji dan tunjangan DPR, pengesahan UU Perampasan Aset, serta pembubaran DPR atau penghapusan tunjangan anggota DPR. Tiga isu ini secara kolektif mencakup hampir 70 persen aspirasi publik yang muncul dari demonstrasi.
Adapun survei dilakukan pada 8–13 September 2025 dengan menggunakan kuesioner berbasis Google Form yang disebarkan melalui media sosial META. Target responden adalah pengguna aktif berusia 17–60 tahun ke atas, tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.
Dari penyebaran itu, terkumpul sebanyak 643 responden. Survei ini dimaksudkan untuk menggali persepsi warganet Indonesia terkait fenomena demonstrasi yang kembali mencuat. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO