Buka konten ini

MANILA (BP) – Sekitar 50 ribu warga Filipina berunjuk rasa besar-besaran di ibu kota Manila, Minggu (21/9) untuk memprotes skandal proyek penanggulangan banjir fiktif yang diduga merugikan negara senilai 118,5 miliar peso atau setara Rp2 triliun. Aksi yang semula berlangsung damai berakhir ricuh setelah bentrokan dengan aparat kepolisian.
Para warga berkumpul di Jalan EDSA, lokasi bersejarah tumbangnya rezim Ferdinand Marcos pada 1986. Demonstrasi dipicu pernyataan Presiden Ferdinand Marcos Jr dalam pidato kenegaraan Juli lalu yang menyinggung adanya proyek fiktif saat negara baru saja dilanda banjir besar.
Sejumlah tokoh politik, organisasi sipil, dan Gereja Katolik mendukung gerakan ini. Ketua aliansi kiri, Bagong Alyansang Makabayan, Teddy Casino, menuntut pengembalian dana hasil korupsi dan hukuman penjara bagi para pelaku.
“Korupsi harus dilawan di jalanan, agar pemerintah tertekan untuk bekerja,” ujarnya, dikutip AFP.
Kericuhan pecah ketika sekelompok massa bertopeng melempari polisi dengan batu dan memecahkan kaca pos penjagaan. Aparat membalas dengan water cannon dan menangkap 72 orang, termasuk 20 anak di bawah umur. Sedikitnya 39 polisi dilaporkan terluka, sementara sebuah truk penghalang dibakar massa.
“Kami belum bisa memastikan apakah mereka benar demonstran atau hanya pembuat onar,” kata juru bicara kepolisian, Mayor Hazel Asilo. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO