Buka konten ini

BINTAN (BP) – Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan, jadi laboratorium lapangan bagi sejumlah mahasiswa Singapore Management University (SMU).
Selama tiga hari, 19–21 September, mereka belajar tentang kehidupan masyarakat pesisir, konservasi lingkungan, hingga geliat ekonomi kreatif.
Sejak hari pertama, para mahasiswa langsung membaur dengan warga. Mereka bermain bakiak dan gasing bersama anak-anak, belajar membuat kerupuk atom, hingga mencoba membuat kerajinan dari daun kelapa. Malamnya, mereka bermalam di rumah warga untuk merasakan suasana desa secara langsung.
Hari kedua diisi dengan tur mangrove. Mereka mendapat edukasi tentang pentingnya ekosistem mangrove, sekaligus ikut meman tau hasil penanaman yang sudah dilakukan masyarakat. Selain itu, mereka juga dikenalkan dengan budidaya tripang atau gamat, salah satu potensi ekonomi andalan warga pesisir. Malam harinya, mahasiswa diajak menikmati pengalaman unik tur kunang-kunang.
Pada hari terakhir, rombongan melanjutkan kunjungan ke desa-desa lain di Bintan, seperti Desa Sri Bintan, Desa Busung, dan Desa Lancang Kuning. Di sana, mereka melihat aktivitas petani muda dari Kelompok Tani Milenial Kreatif.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Bintan, Iwan Winarto, menilai kehadiran mahasiswa SMU memberi dampak positif bagi warga. “Ada efek ganda yang dirasakan masyarakat, mulai dari homestay, kerajinan, hingga tour mangrove. Ibu-ibu pengrajin, bapak-bapak nelayan, sampai pemuda yang menjadi pemandu, semua ikut merasakan manfaatnya,” ujar pengelola Pengudang Mangrove Bintan itu.
Ia berharap kunjungan semacam ini bisa terus berlanjut. Pemerintah pun diharapkan ikut memetakan potensi desa agar manfaatnya semakin luas.
Karla, salah satu mahasiswa SMU, mengaku senang bisa belajar langsung dari masyarakat lokal.
“Kami mendapat pengalaman berharga tentang konservasi mangrove sekaligus mendukung ekonomi kreatif warga,” katanya.
Mahasiswa lain, Erika, juga merasa terkesan. “Kami disambut hangat. Bermain bersama anak-anak desa jadi pengalaman yang tak terlupakan,” ujarnya.
Kunjungan ini tak sekadar memberi pelajaran bagi mahasiswa, tapi juga menghidupkan desa sebagai ruang perjumpaan budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO