
Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti berhenti berkarya. Di tengah kesibukan mengurus keluarga, Ana, 28, membuktikan bahwa tetap ada ruang untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai. Dari rumahnya, ia merintis usaha kerajinan tangan dengan brand unik bernama Friday.
Sejak kecil, Ana sudah akrab dengan dunia jahit-menjahit dan crafting. Di usia delapan tahun, ia mulai belajar membuat kerajinan felt, crochet, hingga knitting. Semua ia pelajari secara otodidak melalui buku, blog, hingga video tutorial.
“Hobi ini saya kembangkan lebih serius setelah jadi ibu rumah tangga, supaya waktu terisi dengan hal bermanfaat sekaligus menghasilkan karya,” ujarnya.
Nama Friday sendiri terinspirasi dari kucing kesayangan Ana. “Dari dialah saya mendapat semangat untuk berkarya. Karena itu saya pakai namanya untuk brand handmade ini,” katanya sambil tersenyum.
Proses kreatif Ana tidak instan. Mulai dari mencari ide, menentukan konsep, memilih bahan, membuat pola, hingga menjahit—semua bisa memakan waktu berbulan-bulan. Dari satu meter kain, ia mampu menghasilkan 10–15 produk. Untungnya, Ana tidak bekerja sendirian. “Saya punya tim kecil yang selalu mendukung proyek ini,” tambahnya.
Produk Friday cukup beragam, tersedia ready stock maupun custom order. Mulai dari pouch charm, gantungan kunci, aksesoris rambut, rajutan, boneka handmade, hingga souvenir unik. Dari semua itu, pouch charm menjadi favorit pelanggan.
“Karena saya tahu perempuan sering bawa barang-barang kecil seperti earbuds atau lip tint. Dengan pouch charm yang bisa digantung di tas, lebih praktis tanpa harus bongkar isi tas,” jelasnya sambil terkekeh.
Saat ini, produk Friday dipasarkan melalui Instagram @friday.btm dengan harga Rp25 ribu–Rp300 ribu. Ana juga aktif mengikuti pameran, salah satunya Batam Sunday Market. Ke depan, ia berharap bisa tampil di lebih banyak bazar.
Modal awal usahanya sekitar Rp1 juta untuk bahan baku, belum termasuk mesin jahit. Saat mengikuti bazar di musim ramai, Ana bisa menjual hingga 40 item per hari. “Setiap bulan penjualan cukup untuk menutup biaya operasional sekaligus menjaga usaha tetap stabil,” ucapnya.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Ia harus rajin mencari ide baru, membuat sampel, bahkan mencoba berulang kali sebelum mendapatkan hasil yang sesuai harapan.
“Pesan saya untuk ibu rumah tangga di luar sana, jangan takut belajar hal baru. Selain jadi kegiatan positif, siapa tahu bisa jadi jalan rezeki untuk keluarga,” tuturnya.
Dalam waktu dekat, Ana menargetkan untuk lebih sering ikut pameran agar produk Friday makin dikenal luas. Ia berharap, suatu hari nanti karyanya bisa menjadi souvenir khas Batam yang dicari wisatawan. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI Editor : JAMIL QASIM