Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Anambas dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Setiap hari, hasil tangkapan nelayan daerah ini dikirim ke berbagai wilayah, mulai dari Kijang, Kabupaten Bintan, hingga Pontianak, Kalimantan Barat.
Namun, geliat distribusi hasil perikanan itu menyimpan persoalan serius: keselamatan pelayaran. Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (DP3) Anambas mengimbau kapal pengangkut ikan tidak membawa muatan melebihi kapasitas.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul laporan adanya kapal dari Tarempa yang berangkat menuju Kijang dalam kondisi overload. Kepala DP3 Anambas, Rovaniyadi, mengingatkan pentingnya menjadikan keselamatan awak kapal sebagai prioritas utama.
“Kami paham semangat nelayan dan pengusaha ikan untuk mengirim hasil tangkapan sebanyak mungkin. Tapi jangan sampai karena mengejar keuntungan, nyawa awak kapal jadi taruhannya. Keselamatan manusia jauh lebih berharga dari sekadar banyaknya fiber ikan,” ujarnya, Kamis (18/9).
Menurut Rovaniyadi, distribusi hasil perikanan memang vital bagi ekonomi daerah, namun aturan tetap harus dipatuhi. “Lebih baik berlayar aman dengan muatan sesuai kapasitas, daripada dipaksakan lalu berujung musibah. Kalau terjadi kecelakaan, semua pihak rugi, termasuk keluarga yang menunggu di rumah,” tambahnya.
Senada, Kasat Polair Polres Anambas, Iptu Parlindungan Hasibuan, menegaskan pihaknya terus mengingatkan kapal barang agar tidak mengangkut muatan berlebih. Ia menekankan, jarak pelayaran dari Tarempa menuju Kijang atau Pontianak cukup jauh dan berisiko tinggi jika kapal kelebihan muatan.
“Kalau kapal overload, sedikit saja gelombang besar bisa langsung membalikkan kapal. Jangan main-main dengan keselamatan di laut. Jarak ke Kijang itu jauh dan risikonya tinggi,” tegasnya.
Ia menambahkan, Polair tidak segan menindak nakhoda maupun agen kapal yang tetap nekat membawa muatan berlebih. “Kalau masih melanggar, kami bisa proses dengan sanksi pidana. Keselamatan di laut tidak bisa ditawar-tawar,” tutupnya. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO