Buka konten ini

Ketut Anik Martini dan keluarga kehilangan hampir semua barang mereka, kecuali baju yang dipakai dan dua motor. I Gusti Agung Sintawati memilih berhenti berjualan bunga dulu untuk menenangkan diri.
DENGAN tenaga tersisa, Ketut Anik Martini meraih akar pohon tempatnya tersangkut. Dia bertahan sekuat tenaga agar tidak hanyut lebih jauh dibawa arus banjir bandang yang menerjang Denpasar, Bali.
“Saya akhirnya diselamatkan dan diajak ke tempat yang lebih aman, namun kaki saya luka dan tangan lecet,” tuturnya kepada Radar Bali (grup Batam Pos) yang menemuinya di tempat pengungsian di Banjar Dakdakan, Denpasar, Kamis (11/9).
Lutut kiri Anik dibebat perban dan siku kanannya juga lecet. Tanda-tanda banjir bandang itu sebenarnya sudah dia waspadai. Rabu (10/9) dini hari sekitar pukul 02.30 Wita, bersama tiga anggota keluarganya, Anik sudah bangun karena air sungai di belakang rumah kontrakan mereka di Banjar Dakdakan meninggi.
Sekitar satu jam setengah kemudian, pukul 04.00 Wita, tiba-tiba air besar datang dari depan rumah dan menjebol tembok rumah.
“Saya hanyut dan hanya bisa pasrah saat itu,” paparnya.
Selain luka fisik, yang paling membekas bagi Anik adalah trauma psikis. Sebagaimana yang juga dirasakan I Gusti Agung Sintawati, pedagang bunga di Jalan Gajah Mada Denpasar yang juga diempas air bah pada Rabu (10/9) pagi saat baru menata dagangan.
Dia berdagang di dekat pagar jembatan Jalan Gajah Mada. “Syukurnya saya masih bisa berpegangan kuat di besi pagar,” ujar perempuan asal Badung Utara Badung itu sambil menangis mengingat perjuangannya pagi itu.
Trauma yang tersisa membuatnya memilih untuk menenangkan diri dulu. Tak lagi berjualan untuk sementara waktu. “Nyawa lebih berarti daripada uang,” katanya, masih sambil menangis.
Luka Empat Jahitan
Tak hanya Anik yang mengalami luka di keluarganya. Anak perempuannya juga mengalami luka di kaki dan menerima empat jahitan.
Anik sekeluarga juga kehilangan hampir semua barang di kontrakan karena hanyut. Hanya menyisakan pakaian di badan dan dua motor.
Kontrakannya, kata sang anak I Gde Agus Fery Adnya, juga sudah tergerus di bagian belakang, hanya tersisa sedikit di bagian depan. Anik mengaku tak akan berani kembali ke tempat tinggalnya itu karena khawatir roboh.
“Sekarang kami sangat membutuhkan tempat tinggal, sebab tidak mungkin kembali ke kontrakan,” paparnya. (***)
Reporter : ADRIAN SUWANTO
Editor : RYAN AGUNG