Buka konten ini
BATAM (BP) – Banjir masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan Pemerintah Kota Batam. Memasuki musim hujan, puluhan titik di berbagai wilayah kota kembali menjadi langganan genangan air.
Kepala Bidang SDA Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Batam, Wan Taufik, menyebutkan data terbaru hingga pertengahan tahun 2025 mencatat setidaknya terdapat 105 titik genangan air yang tersebar, mulai dari kawasan permukiman padat, ruas jalan utama, hingga pusat perbelanjaan.
Beberapa kawasan rawan banjir antara lain Jalan Raja M. Tahir (lampu merah Ikan Daun dan samping One Batam Mall), Mitra Raya, Simpang Seruni Pasir Putih, Pasar Dutamana Taman Raya, hingga depan Mega Mall dan Centre Mall. Titik lain mencakup SMPN 28 Batam, Kampus UNIBA, hingga depan kantor Camat Nongsa.
“Di Sekupang juga ada, seperti Tiban Center, Tiban 1, Tiban 3, Jalan Raya Marina City, kawasan industri Sekupang, hingga depan Hotel Harris Marina. Kawasan Jodoh–Kampung Seraya,” jelasnya.
Menurut Wan, penyebab banjir di Batam cukup beragam, mulai dari perubahan tata guna lahan yang menghilangkan daerah resapan air, aktivitas cut and fill, hingga rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Masih ada warga yang membuang sampah sembarangan, bahkan menutup saluran air,” papar Wan.
Pemerintah Kota Batam sebelumnya menegaskan bahwa penanganan drainase menjadi salah satu prioritas pembangunan. Namun, jumlah titik genangan air yang masih mencapai ratusan menunjukkan persoalan ini belum tertangani secara menyeluruh.
Upaya antisipasi yang kini dilakukan antara lain pembangunan box culvert, pelebaran saluran, hingga pemeliharaan rutin drainase baik menggunakan alat berat maupun tenaga manual. ”Untuk tahun 2026, DBMSDA Batam mengusulkan penambahan anggaran khusus penanganan banjir. “Saat ini masih tahap pembahasan bersama DPRD,” ujar Wan. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RYAN AGUNG