Buka konten ini

BATAM (BP) – Pemerintah Kota (Pemko) Batam kembali menggelar Operasi Pasar Murah sebagai langkah menjaga stabilitas harga sekaligus mengendalikan inflasi. Program ini berlangsung tiga hari, mulai 15 hingga 17 September, dengan menyasar enam kecamatan agar masyarakat lebih mudah memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Pelaksanaan hari pertama digelar di dua titik, yakni Lapangan Bola Kampung Tua Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, serta fasum Masjid Nurul Falah, Sei Tering I Melchem, Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar. Kedua lokasi dipadati warga yang ingin membeli sembako dengan harga lebih murah dari pasaran.
Pada Selasa (16/9), kegiatan berlanjut di Mangsang Creative Centre (MCC), Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sei Beduk, dan fasum RW 12 Kavling Senjulung, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, terutama untuk beras, minyak goreng, dan telur ayam.
Hari terakhir, Rabu (17/9), pasar murah digelar di Lapangan Parkir Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, serta Lapangan Bola Kampung Tua Tembesi, Kecamatan Sagulung. Seluruh kegiatan berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB.
“Operasi Pasar Murah ini merupakan salah satu upaya pemerintah membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga. Kami berharap masyarakat bisa hadir sesuai jadwal,” kata Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, Minggu (14/9).
Ia optimistis keberadaan pasar murah tidak hanya meringankan beban warga, tetapi juga efektif mengendalikan inflasi daerah. Dengan sinergi bersama distributor, Bulog, Pertamina, dan perangkat daerah terkait, harga kebutuhan pokok di Batam diharapkan tetap terkendali.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Gustian Riau, menyebut pasar murah menyediakan beragam kebutuhan pokok, mulai dari beras, gula pasir, minyak goreng, telur ayam, tepung, daging ayam beku, daging sapi beku, bawang merah, bawang putih, cabai, ikan, sayuran, buah-buahan, susu, hingga gas elpiji 3 kilogram.
“Seluruh produk yang dijual dipasok oleh ADKB (Asosiasi Distributor Kota Batam), Perum Bulog, Pertamina, serta binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Dinas Perikanan,” ujarnya.
Harga Cabai dan Sayur Melonjak
Sementara itu, harga kebutuhan dapur kembali merangkak naik di sejumlah pasar tradisional Batam. Cabai setan yang sebelumnya dijual Rp55 ribu per kilogram kini tembus Rp70 ribu. Cabai merah besar pun ikut melambung hingga Rp70 ribu per kilogram, membuat beban belanja harian masyarakat kian berat.
Kenaikan tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga sayuran. Harga kangkung, bayam, hingga daun singkong kini menyentuh Rp14 ribu per ikat. Buncis yang sebelumnya relatif terjangkau, kini sudah Rp36 ribu per kilogram.
Bumbu dapur pun tak luput dari lonjakan harga. Bawang birma saat ini Rp22 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah Jawa Rp30 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat hampir semua jenis sayuran dan bumbu dapur naik dalam beberapa pekan terakhir.
Narti, pedagang sayur di Pasar Sagulung, mengaku omzet menurun sejak harga naik.
“Ibu-ibu banyak mengeluh, kadang hanya beli setengah dari biasanya. Mereka bilang uang belanja tidak cukup karena semua serba naik,” ujarnya, Senin (15/9).
Andre, pedagang sayur di Pasar Fanindo, menyebut penyebab utama kenaikan harga adalah berkurangnya pasokan.
“Musim hujan bikin hasil panen berkurang, pengiriman juga kadang terlambat. Jadi harga di tingkat agen sudah tinggi, kami pedagang kecil ikut terbebani,” jelasnya.
Ibu rumah tangga pun berharap pemerintah segera turun tangan.
“Kalau begini terus, susah juga. Cabai saja sudah setara harga daging. Kami minta ada operasi pasar murah atau kontrol harga, biar masyarakat tidak terlalu terbebani,” keluh Siti, warga Sagulung.
Pantauan di beberapa pasar, banyak warga kini mengurangi jumlah belanja atau mencari alternatif bahan masakan. Sebagian memilih membeli cabai lebih sedikit, sementara untuk sayur beralih ke jenis yang masih lebih murah meski pilihan semakin terbatas.
Kenaikan harga ini dikhawatirkan berlanjut jika pasokan tidak stabil. Pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah konkret agar gejolak harga tidak semakin memberatkan masyarakat, terutama menjelang musim hujan yang berpotensi memengaruhi hasil pertanian di daerah pemasok. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : JAMIL QASIM