Buka konten ini
ANAMBAS (BP) – Di sebuah pulau kecil jauh dari hiruk pikuk kota besar, sebuah nomor WhatsApp menjadi harapan baru bagi warga. Nomor itu bukan milik biro jasa atau staf pemerintah, melainkan milik pribadi Kapolres Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka.
Sejak dipercaya menjabat Kapolres Anambas sebulan lalu, Gusti membuka layanan aduan masyarakat melalui nomor pribadinya. Nomor itu ia genggam 24 jam, siap menampung keluhan, laporan, maupun sekadar cerita dari warga.
“Ini nomor saya sendiri. Supaya saya tahu langsung apa yang terjadi di lapangan. Kalau ada yang melapor, saya tanggapi segera,” ujarnya tegas, Minggu (14/9).
Hanya dalam sebulan, hampir 50 laporan sudah masuk. Mulai masalah serius terkait perilaku aparat, hingga hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele. Namun bagi Gusti, sekecil apa pun persoalan warga tetap penting.
Suatu ketika, ada warga yang melapor soal anggota polisi belum membayar cucian di laundry. Tampak remeh, tapi Gusti tak menyepelekannya. Ia langsung memerintahkan Kasi Propam menindaklanjuti. Dalam waktu singkat, biaya laundry itu dibayarkan. Warga yang melapor pun lega—lebih dari sekadar uang kembali, ia merasa suaranya benar-benar didengar.
Dari perkara laundry itu, tumbuh rasa percaya. Nomor WhatsApp Kapolres pun tak hanya jadi saluran aduan, melainkan jembatan komunikasi yang tak terduga. Pernah, seorang warga dari Jakarta menelepon hanya untuk bertanya rute menuju Anambas.
“Dia tanya jalur ke Anambas. Saya jelaskan, dari Jakarta bisa ke Batam dulu, lalu lanjut kapal atau pesawat ke Letung atau Tarempa. Sekalian saya ceritakan juga keindahan alam di sini. Mungkin dia mau liburan,” tutur Gusti sambil tersenyum.
Bagi Gusti, layanan sederhana ini adalah bagian dari tekad menghadirkan Polri yang dekat dengan masyarakat. “Kami ingin ada keterbukaan. Polisi dan masyarakat harus saling percaya,” ucap perwira asal Bali itu.
Di perbatasan negeri yang jauh dari pusat, nomor WhatsApp Kapolres kini menjadi sahabat baru warga. Saat resah, bingung, atau butuh didengar, mereka tahu ada pintu yang selalu terbuka. Dari balik layar ponsel, Kapolres hadir bukan dengan jarak, melainkan dengan kehangatan.
Bukan dari spanduk atau seremoni megah, kepercayaan itu tumbuh lewat satu pesan singkat, satu balasan tulus, dan satu tindakan nyata. Gusti ingin menunjukkan bahwa di balik seragam dan kewenangan, ada hati yang siap mendengar, telinga yang terbuka, dan tangan yang sigap menolong.
Di kepulauan yang dikelilingi laut luas ini, satu nomor WhatsApp menjadi jangkar kecil—tempat masyarakat bersandar pada rasa aman, kepercayaan, dan harapan baru. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO