Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Ratusan anak memenuhi Pulau Matak, Kabupaten Kepulauan Anambas, sejak Minggu (14/9) pagi. Dengan wajah ceria, mereka datang bersama guru dan orang tua untuk mengikuti Festival Lingkungan Anambas 2025. Suasana penuh semangat terasa sejak acara dimulai, seolah-olah pulau kecil itu sedang merayakan pesta pengetahuan dan budaya.
Festival ini memang dirancang sebagai media edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga bumi dari ancaman limbah dan ulah manusia. Namun, pesannya disampaikan dengan cara yang menyenangkan, belajar sambil bermain.
Sekda Anambas, Sahtiar, yang hadir langsung, menegaskan pentingnya menanamkan kesadaran sejak dini.
“Kalau kita ingin pangan tetap lestari, laut bersih, dan udara sehat, maka kepedulian harus tumbuh dari anak-anak kita. Melestarikan alam berarti menyelamatkan masa depan kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar anak-anak tidak menyepelekan hal kecil. “Jangan buang sampah sembarangan. Itu sederhana, tetapi menjadi awal dari kepedulian besar. Kalau lingkungan bersih, hidup akan lebih sehat dan nyaman,” tambahnya.
Beragam kegiatan membuat festival ini begitu hidup. Ada pemutaran video karya anak-anak, dokumentasi festival sebelumnya, hingga pentas seni dan tari bertema lingkungan yang kental dengan nuansa budaya lokal. Anak-anak tampil percaya diri, sekaligus bangga membawa identitas daerahnya.
Permainan edukatif seperti “Food BioDiv Card” dan ular tangga lingkungan juga menjadi rebutan. Sementara itu, stand “coba dan cicip” memperkenalkan pangan lokal khas Anambas yang sehat dan bergizi.
Salah satu sesi yang paling ditunggu adalah dialog lingkungan bersama kepala daerah. Di sini, anak-anak diberi kesempatan menyampaikan gagasan kritis tentang kelestarian alam. Suasananya hangat dan penuh inspirasi, membuat mereka berani bersuara lantang.
Senior Manager Field Relations & Security Offshore Medco E&P Natuna, Ary Dwipermana, mengingatkan bahwa wilayah kepulauan seperti Anambas memiliki kekayaan pangan dan biodiversitas yang besar, tetapi juga rentan terhadap perubahan iklim.
“Keterlibatan generasi muda sangat penting dalam menjaga lingkungan dan budaya. Festival ini bukan sekadar agenda tahunan, tapi momentum membangun kolaborasi semua pihak,” ujarnya.
Menurut Ary, menjaga pangan lokal sama artinya dengan merawat identitas budaya, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menjamin keberlanjutan generasi mendatang.
Festival Lingkungan Anambas 2025 pun menjadi bukti bahwa edukasi bisa dikemas dengan cara kreatif. Anak-anak belajar bahwa merawat bumi bukan hanya tugas orang dewasa, melainkan tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih baik. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO