Buka konten ini

BATAM (BP) – Ratusan siswa berseragam putih abu-abu memadati kawasan wisata alam Lembah Pelangi, Patam, Rabu pagi (10/9). Suara riuh tawa, langkah kaki di jalan setapak, hingga kamera ponsel yang kerap terangkat, mewarnai suasana di sana. Mereka adalah 106 siswa SMA Ananda Batam yang sedang menjalani field study 2025, didampingi 12 guru pengawas.
Bukan sekadar rekreasi, kegiatan ini merupakan bagian dari tugas proyek mata pelajaran Biologi dan Bahasa Inggris. Siswa diajak belajar langsung mengenai tanah, air, tanaman, hingga bagaimana manusia seharusnya menjaga alam.
Di bawah rindang pepohonan, mereka bergantian menanam 10 batang pohon rambutan dan lima pohon lengkeng. Ada juga sesi menanam ubi, tanaman yang bagi sebagian anak kota terasa asing.
Odit Lubis, Ketua Kelompok Sadar Wisata Tebing Langit Lembah Pelangi, memandu kegiatan sambil menyelipkan filosofi hidup.
“Nenek moyang kita banyak makan ubi sebelum nasi. Ini bagian dari edukasi ketahanan pangan. Bahwa pangan lokal bisa jadi kekuatan bangsa kalau kita kelola dengan baik,” katanya penuh semangat.
Selain bercocok tanam, siswa juga diperlihatkan bagaimana pengelolaan air tanpa ada yang terbuang. Air bersih digunakan untuk rumah tangga dan kolam renang, sedangkan air keruh dimanfaatkan untuk kolam pancing dan budidaya ikan.
“Tidak ada air yang sia-sia. Semua bisa bermanfaat kalau kita kreatif,” ujarnya.
Menurut Odit, kegiatan ini adalah cara sederhana menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Kalau bisa, semua sekolah punya program seperti ini. Anak-anak harus belajar tentang alam, pertanian, dan ketahanan pangan,” tambahnya.
Wakil Kepala SMA Ananda Batam Bidang Kesiswaan, Asrul, SE, menegaskan field study dirancang mendukung kurikulum dengan konsep Deep Learning.
“Anak-anak diajak merasakan langsung apa yang dipelajari, memahami proses, dan melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Bagi siswa, pengalaman ini lebih hidup dibandingkan belajar di kelas. Tangan kotor oleh tanah, keringat di dahi, dan interaksi langsung dengan alam menjadi pelajaran yang sulit digantikan.
“Seru banget, bisa belajar langsung di alam. Jadi lebih ngerti kenapa kita harus jaga lingkungan,” ujar salah satu siswa sambil tersenyum.
Hari itu, Lembah Pelangi bukan hanya destinasi wisata, melainkan kelas terbuka yang menyatukan teori dan praktik, ilmu dan nilai kehidupan. Dari ladang ubi hingga kolam ikan, para siswa belajar bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : JAMIL QASIM