Buka konten ini

Selama ini kontrasepsi lebih banyak identik dengan perempuan, mulai dari pil, suntik, spiral hingga tubektomi. Padahal, pria juga memiliki pilihan kontrasepsi yang disebut vasektomi.
DOKTER Spesialis Urologi RS Awal Bros Batam, dr. Marzuki Panji Wijaya, Sp.U menjelaskan, vasektomi adalah tindakan medis untuk mencegah kehamilan dengan cara memotong dan mengikat saluran sperma pada pria. Prosedur ini tergolong aman dan efektif, tanpa memengaruhi hormon maupun fungsi seksual pria.
“Banyak masyarakat salah paham, mengira vasektomi itu sama dengan kebiri. Padahal berbeda. Pada vasektomi, testis tidak diangkat, hormon tetap diproduksi, gairah seksual tidak terpengaruh, dan ejakulasi tetap normal. Hanya saja sperma tidak lagi keluar,” kata dr. Panji dalam live Instagram Halloawalbros bertajuk “Saat Vasektomi jadi Pilihan Kontrasepsi Pria”, Kamis (11/9).
Menurutnya, efektivitas vasektomi mencapai lebih dari 97 hingga 99 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding kontrasepsi pria lain seperti kondom atau coitus interruptus (buang di luar).

Di Indonesia, vasektomi belum sepopuler di luar negeri. Di Amerika misalnya, satu dari lima pria usia diatas 35 tahun memilih vasektomi sebagai bentuk perencanaan keluarga.
“Kalau di sini masih jarang. Padahal ini bisa jadi pilihan, terutama bagi keluarga yang sudah mantap tidak ingin menambah anak lagi,” jelasnya.
Syarat untuk melakukan vasektomi di antaranya memiliki anak minimal dua, usia anak terakhir sudah cukup, serta adanya persetujuan dari istri. “Ini penting, karena keputusan kontrasepsi harus dirundingkan bersama. Jadi bukan keputusan sepihak,” tambahnya.
Proses vasektomi sendiri tergolong cepat dan sederhana. Dengan teknik tanpa pisau (non-scalpel vasectomy), dokter hanya membuat lubang kecil di kulit untuk mengakses saluran sperma.
“Prosedur ini biasanya selesai dalam 15–30 menit dengan bius lokal. Luka kecil ditutup plester dan bisa sembuh tanpa jahitan. Pasien bahkan bisa pulang di hari yang sama,” jelas dr. Panji.
Mengenai masa pemulihan, pasien biasanya dianjurkan beristirahat sejenak. Aktivitas ringan bisa dilakukan dalam satu hingga dua hari, sementara olahraga berat atau pekerjaan fisik sebaiknya ditunda sekitar seminggu.
Lebih jauh, vasektomi juga disebut dapat meningkatkan keharmonisan rumah tangga. “Ada penelitian yang menyebut setelah vasektomi, hubungan suami istri menjadi lebih harmonis. Karena pasangan lebih leluasa berhubungan tanpa rasa khawatir terjadi kehamilan,” tuturnya.

Dr. Panji menegaskan vasektomi tidak berdampak negatif pada kesehatan. Sperma yang tidak keluar akan diserap kembali oleh tubuh secara alami.
“Tidak ada kaitannya dengan kanker testis atau kanker prostat. Jadi vasektomi aman,” katanya.
Kini vasektomi kian banyak dipilih pria yang ingin berperan aktif dalam program keluarga berencana (KB).
Menurut dr. Panji, paska prosedur vasektomi, pasien cukup menjalani observasi singkat selama setengah hingga satu jam setelah tindakan, lalu bisa langsung pulang.
“Biasanya pasien hanya perlu istirahat sehari penuh. Tidak ada jahitan besar, dan risiko komplikasi juga sangat minim,” jelasnya.
Cemas tapi Aman
Meski sederhana, banyak pasien pria yang merasa cemas sebelum tindakan.
“Laki-laki itu segede apa pun biasanya takut jarum suntik. Berbeda dengan perempuan yang sudah terbiasa menghadapi prosedur medis seperti melahirkan,” kata dr. Panji sambil tersenyum.
Untuk itu, tim medis selalu memberi penjelasan persuasif agar pasien lebih tenang. Saat tindakan pun, meski tidak terasa sakit, pasien bisa merasakan sedikit gerakan di area operasi.
“Hal itu wajar, dan langsung kami edukasi supaya pasien tidak khawatir,” tambahnya.
Edukasi ini tidak berhenti saat tindakan berlangsung, tetapi juga berlanjut setelah prosedur selesai.
Setelah prosedur, vasektomi langsung efektif menghentikan aliran sperma, namun dikarenakan masih bisa ada sisa sperma di saluran vas, pasangan tetap disarankan menggunakan kontrasepsi lain seperti kondom, setidaknya hingga 20 kali ejakulasi atau sekitar tiga bulan setelah prosedur.
“Setelah tiga bulan, pasien harus kembali untuk pemeriksaan analisis sperma. Jika hasilnya menunjukkan sudah tidak ada sperma, barulah dinyatakan 100 persen aman,” jelas dr. Panji.
Semi-Permanen, Bukan 100 Persen Tak Bisa Balik
Banyak orang mengira vasektomi bersifat permanen. Faktanya, saluran vas yang dipotong dapat disambung kembali melalui operasi reversal. Namun, tingkat keberhasilannya tidak bisa 100 persen.
“Secara praktik tindakan vasektomi-reversal bisa, tapi hasilnya tidak akan sama seperti kondisi sebelum dipotong. Karena itu, vasektomi sebaiknya dipilih oleh pria yang benar-benar mantap tidak ingin menambah anak lagi,” tegas dr. Panji.
Risiko dan Efek Samping
Seperti prosedur medis lainnya, vasektomi tetap memiliki risiko. Efek samping yang paling umum adalah memar ringan atau bengkak kecil di area skrotum, yang biasanya hilang dengan sendirinya. Ada juga kemungkinan perdarahan ringan, nyeri dan rasa tidak nyaman pascaoperasi.
“Yang perlu diperhatikan, setelah operasi jangan dulu digaruk atau terkena air berlebihan agar tidak terjadi infeksi. Biasanya satu sampai dua hari pertama saja harus dijaga,” ujarnya.
Tidak Melindungi dari Penyakit Menular Seksual
Meski efektif sebagai kontrasepsi, vasektomi tidak melindungi pria dari infeksi menular seksual (IMS).
“Ada anggapan yang salah bahwa setelah vasektomi, pria bisa bebas berhubungan seksual tanpa risiko. Itu keliru. Vasektomi hanya mencegah kehamilan, bukan mencegah penyakit menular,” tegas dr. Panji.
Siapa yang Sebaiknya Memilih Vasektomi?
Vasektomi memang tidak diperuntukkan bagi semua pria. Menurut dr. Panji, metode ini ideal bagi pasangan yang sudah memiliki jumlah anak yang diinginkan, pernikahan yang stabil, dan tidak berencana menambah keturunan.
Selain itu, vasektomi juga bisa menjadi solusi bila sang istri tidak cocok dengan KB hormonal atau memiliki kondisi medis tertentu yang membuatnya tidak bisa menggunakan kontrasepsi lain.
“Ada pasien yang istrinya memiliki efek samping ketika menggunakan kontrasepsi hormonal, ditambah lagi ada alergi lateks sehingga tidak bisa pakai kondom. Vasektomi bisa menjadi pilihan yang aman,” jelasnya.
Secara biaya dan prosedur, vasektomi juga lebih ringan dibandingkan tubektomi (KB steril pada perempuan).
“Tindakan vasektomi bahkan lebih murah dibandingkan tubektomi. Prosedurnya juga lebih sederhana karena hanya membuat sayatan kecil kulit skrotum,” tambah dr. Panji.
Vasektomi adalah salah satu bentuk partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi keluarga. Prosedur ini singkat, aman, efektif, dan bisa menjadi pilihan tepat bagi pasangan yang sudah mantap merencanakan jumlah anak.
Menurutnya, vasektomi bukan untuk semua orang. Tindakan ini dipilih oleh laki-laki yang ingin berpartisipasi dalam perencanaan reproduksi bersama pasangan.
Sebelum tindakan, pasien wajib mengikuti konseling agar suami dan istri bisa bertanya, menyamakan persepsi, serta memahami ekspektasi bersama.
“Karena vasektomi bersifat semi permanen, maka harus diputuskan dengan matang. Biasanya dilakukan pasangan yang sudah mantap tidak ingin menambah anak, atau karena alasan kesehatan istri,” tambahnya.
Ia menegaskan, vasektomi tidak menghalangi hubungan suami istri. Proses operasi pun tergolong singkat, hanya sekitar 30 menit. Setelah itu pasien cukup beristirahat, dan dalam satu minggu biasanya kondisi sudah kembali normal.
“Dalam tiga bulan setelah tindakan, pasien perlu kembali untuk memastikan tidak ada lagi sperma yang tersisa. Jika hasil pemeriksaan sudah bersih, artinya prosedur berhasil dan aman digunakan sebagai kontrasepsi,” ujarnya.
dr. Panji menekankan bahwa vasektomi bisa membawa dampak positif bagi rumah tangga.
“Dengan kesepakatan bersama, tindakan ini merupakan bentuk partisipasi suami dalam kesehatan dan perencanaan reproduksi keluarga. Jadi, kenapa tidak dicoba?” katanya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY