Buka konten ini

SEBANYAK 655 anak atau 22,32 persen dari total 2.935 peserta berusia dua tahun ke atas mengikuti pemeriksaan gula darah dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Batam. Mayoritas anak tercatat memiliki kadar gula darah normal.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, 623 anak atau 95,11 persen berada dalam kategori normal. Namun, 13 anak (1,98 persen) terindikasi mengalami prediabetes, sementara 20 anak lainnya (3,05 persen) terdeteksi hipoglikemia. Tidak ditemukan kasus hiperglikemia dalam pemeriksaan tersebut.
Kepala Dinkes Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan temuan prediabetes pada anak perlu menjadi perhatian meski belum dapat dikategorikan sebagai diabetes.
“Sebetulnya belum bisa dikatakan diabetes, masih prediabetes. Setelah dilakukan tes lanjutan berupa cek gula darah puasa dan dua jam setelah makan, hasilnya normal,” ujar Didi, Rabu (10/9).
Didi menjelaskan, prediabetes merupakan fase peringatan di mana kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tetapi belum mencapai kategori diabetes melitus tipe 2. Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini berisiko berkembang menjadi diabetes di kemudian hari.
“Kondisi normal, gula darah puasa di bawah 100 mg/dL. Prediabetes berada di rentang 100–125 mg/dL, atau tes toleransi glukosa dua jam 140–199 mg/dL, atau HbA1c 5,7–6,4 persen. Sedangkan diabetes ditetapkan jika gula darah puasa =126 mg/dL, tes toleransi glukosa =200 mg/dL, atau HbA1c =6,5 persen,” terang Didi.
Ia menambahkan, penyebab utama prediabetes pada anak umumnya berasal dari obesitas, pola makan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, hingga faktor keturunan.
Gejalanya sering kali tidak jelas, namun beberapa anak dapat mengalami rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, cepat lelah, atau berat badan berlebih.
Untuk mencegah kondisi tersebut, Dinkes Batam mengimbau orang tua melakukan perubahan gaya hidup sehat sejak dini. Langkah yang bisa ditempuh antara lain mengatur pola makan dengan mengurangi asupan tinggi gula dan lemak serta memperbanyak konsumsi buah, sayur, dan biji-bijian.
Selain itu, anak disarankan rutin beraktivitas fisik minimal 60 menit per hari, membatasi penggunaan gawai, menjaga berat badan secara bertahap dan sehat, serta memeriksakan kesehatan secara berkala, termasuk gula darah, tekanan darah, dan profil lipid.
Lingkungan sehat juga penting dibangun di rumah maupun sekolah, misalnya melalui kantin sehat, olahraga bersama, serta edukasi kepada anak dan keluarga mengenai pentingnya pola hidup sehat.
“Kalau prediabetes dikenali sejak awal, masih bisa dikendalikan bahkan kembali normal. Pencegahan jauh lebih efektif dibanding mengobati ketika sudah menjadi diabetes,” pungkas Didi. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK