Buka konten ini

Budaya belajar di Korea Selatan telah lama menjadi perhatian dunia. Sistem pendidikan negara ini terkenal dengan kedisiplinannya. Jam belajar panjang hingga ambisi masuk universitas ternama. Di balik reputasi akademik yang membanggakan itu justru banyak pelajar terjebak dalam tekanan luar biasa.
Laporan PBS menyatakan, “Sekolah tidak pernah benar-benar berakhir bagi sebagian besar siswa di Korea Selatan. Setelah menyelesaikan hari sekolah normal, sebagian besar dari mereka masih mengikuti les tambahan hingga larut malam.” Gambaran tersebut menunjukkan bagaimana pendidikan tidak lagi terbatas di ruang kelas, melainkan merambah hingga malam hari di pusat bimbingan belajar atau hagwon.
Tekanan belajar yang ekstrem itu semakin kuat karena kompleksitas sistem penerimaan perguruan tinggi. Laporan Journal of Global Health Reports menyatakan bahwa siswa di tingkat menengah dan atas, “Umumnya menghabiskan beberapa jam dalam kelas privat … sehingga waktu untuk bersantai menjadi sangat terbatas.” Dengan kata lain, kesempatan untuk bermain atau beristirahat hampir hilang dari keseharian pelajar di sana. Tidak mengherankan bila banyak siswa merasa hidupnya hanya berputar pada sekolah dan les.
Dampak dari beban tersebut terasa nyata pada kesehatan mental generasi muda. Studi yang sama menemukan adanya indikasi serius seperti depresi, kecemasan, bahkan pikiran untuk bunuh diri. Laporan itu menyebutkan, ”Siswa menengah dan atas sangat menderita karena masalah kesehatan mental serius seperti bunuh diri, depresi, kecemasan, dan indikator serupa.” Data ini memperlihatkan sisi gelap dari sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada prestasi akademik.
Pemerintah Korsel menyadari masalah tersebut. Salah satu langkah untuk memitigasinya dengan menghapus soal-soal sulit dalam ujian masuk perguruan tinggi. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Andriani Susilawati