Minggu, 15 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Ayu, Homebaking yang Multitasking

Sweets and Treats by LurrOven

Terkadang yang terlihat dari orang jualan atau berbisnis hanya cuannya saja, padahal ada banyak kerikil di baliknya, seperti Ayu yang pernah ditipu pembeli, dimarahi driver online, hingga mendapati pembeli yang bawel.

Ayu Fairera Damayanti, yang akrab disapa Ayu, usia 29 tahun, yang saat ini sedang menjalani peran sebagai ibu, istri, guru Bahasa Inggris, dan pembuat kue dari rumah. Sejak menikah dan punya anak, Ayu mengaku memiliki hobi baru yaitu masak dan membuat kue.

“Awalnya saya iseng bikin kue untuk anak dan suami, ternyata mereka suka banget,” ungkapnya antusias.
Tak hanya itu, Ayu juga kerap kali membagikan ke teman-teman kantor suami dan teman-teman kantornya, minta review mereka, minta masukan, dan mereka suka, alhasil Ayu mulai pre-order tipis-tipis.

“Bermula dari mulut ke mulut, terus rajin ngepost juga di sosmed dan coba bikin ads (promosi), ternyata mengalir gitu saja dan jadi hobi yang menghasilkan sampai sekarang,” imbuhnya.

Ayu memulai usahanya dari Januari lalu, dan memberi nama Lurroven, yang mana Lurr diambil dari nama anaknya, yaitu Allura, yang biasa dipanggil Lurra, dan ditambah kata oven, karena usahanya berhubungan dengan oven.

“Supaya suatu hari dia tahu, kalau usaha ini ibunya bangun atas nama dia dan biar dia bangga atau bisa meneruskan, Aamiin,” ucap Ayu penuh harap.

Ilmu baking yang Ayu miliki sekarang, ternyata tak lepas dari riwayat pendidikannya, Ayu adalah lulusan SMK Tataboga di Tanjungpinang, dan pernah training di salah satu resort di Bintan selama 6 bulan, di bagian hot kitchen dan pastry, sehingga ia dapat basic ba­king dari sana, serta belajar teori dari sekolahnya.

“Tapi setelah itu lanjut kuliah di jurusan yang berbeda, saya ambil jurusan Bahasa Inggris di UMRAH, karena orangtua support ngembangin Bahasa Inggris saja dan jurusannya lebih universal, entar tataboga ku bisa mengikuti,” papar Ayu.
“As time goes by ilmu itu tidak hilang, bahkan masih melekat kuat, terlebih dari sosmed kita bisa belajar apapun,” imbuhnya.

Karena tak hanya berjualan, sehingga waktu Ayu untuk membuat orderan juga terbatas, Ayu pulang kerja jam 9 malam, dan langsung menyiapkan orderan untuk besoknya, lalu subuhnya lanjut lagi, tak jarang ia juga terjaga sepanjang malam jika orderan yang masuk banyak.

Paginya finishing, lanjut packing, fotoin produk, bikin konten, dan terakhir delivery menggunakan driver online. Selesai urusan jualan sekitar jam 12 siang, lalu setelahnya Ayu langsung bersiap-siap bekerja jam 2 siang.

“Kita open PO tidak menentu waktunya, kalau pelanggan lagi ingin kita open, atau kalau lagi libur, payday week (hari saat terima upah dalam seminggu), biasanya open PO, dan paling banyak pernah bikin 25 kotak bento,” tuturnya.
Berikut beberapa menu yang tersedia di Lurroven:
– Brown butter banana bread (80k)
– Banana bread gluten free (100k)
– Brownies birthday (80k-160k)
– Brownies for meals (60k-75k)
– Bolu ketan hitam ori (60k)
– Bolu ketan keju lumer (80k)
– Taro ori (70k)
– Taro keju lumer (85k)
– Taro birthday (120k)
– Matcha cake (25k-80k)
– Banana choco cake (25k-60k)
– Birthday burnt cheesecake (230k)
– Original burnt cheesecake (60k)
– Sliced burnt cheesecake (30k)

“Kita fokusnya lebih ke kue-kue untuk camilan dibanding kek ulang tahun, rasa lainnya seperti pandan, tiramisu, red velvet, dan yang paling best seller itu bolu ketan hitam dan fudge brownies, tapi tetap balik lagi selera setiap customers itu beda-beda,” sebut Ayu.
Lurroven sampai saat ini masih jualan secara daring, dan masih homebaking, yang berlokasi di Bengkong Sadai, jalan Hang Lekir VII blok C3 No 19, dan untuk order bisa by WhatsApp ataupun DM Instagram @lurroven, Ayu juga pernah open PO ke Pinang waktu awal-awal buka, dan ramai.

“Untuk modal awal sekitar 1 juta, dan 1 juta itu aku putar terus sampai sekarang, sedangkan omzet perbulannya sekitar 5-5.5juta,” ungkapnya.
Tak hanya senang karena cuan, tentu Ayu juga pernah mengalami hal tak mengenakkan selama berjualan, seperti dighosting sama calon pembeli, harga bahan baku naik sehingga harga produk ikutan naik, dimarahi driver online saat pengantaran orderan, hingga mendapati pelanggan yang super bawel.

“Waktu di awal-awal sempat engap, karena harus ngurus anak, suami, urus rumah, kerja, orderan, pernah kepikiran mau menyerah, tapi suami tetap support karena yakin Lurroven akan besar nantinya,” ujar Ayu.

Baginya, kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak mencoba, dan terus posting. Dirinya yakin jalanan tidak akan selalu mulus, akan ada naik turun, dan jangan lupa terus upgrade skill di era digital, seperti belajar editing, agar tidak ketinggalan dengan generasi Z dan Alpha, juga tak kalah penting yaitu selalu update sama taste customers.

“Pengen banget bisa collab atau bikin workshop, juga pengen bisa berteman dengan banyak bakers biar nular hebatnya,” ucapnya.
Harapannya, semoga Lurroven bisa bertahan lama, tidak berhenti di tengah jalan apapun kondisinya, semoga pelanggan tetap senang dengan kue-kue Lurroven, dan targetnya suatu hari nanti punya studio baking dan outlet.

“Aku seneng banget kalau customers ngasih review (good and bad) setelah order, bikin aku keep improving, dan semoga Lurroven makin dikenal banyak orang kedepannya,” ujar Ayu diakhir perbincangan. (***)

Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI