Buka konten ini

Gunung Lengkuas Bintan tidak hanya menyuguhkan bentang alam yang memukau, tetapi juga menjadi medan ujian bagi siapa pun yang berani menantang adrenalin dan menjajal dunia ekstrem rock climbing.
GUNUNG Lengkuas Bintan dengan ketinggian 230 meter di atas permukaan laut (mdpl) dikenal memiliki kontur tebing yang beragam. Dari jalur ramah pemula hingga jalur ekstrem, masing-masing menyimpan cerita berbeda. Ada yang menantang fisik, ada pula yang menguji mental, sehingga menciptakan pengalaman tak terlupakan.
Tantangan itu terletak pada memanjat Tebing Batu Topak dan Tebing Tapak. Keduanya menghadirkan cerita sekaligus ujian tersendiri. Bagi pendaki, pencinta olahraga ekstrem, maupun siapa saja yang berani menguji adrenalin, rock climbing di Gunung Lengkuas Bintan bukan sekadar olahraga, melainkan perjalanan menyatu dengan alam sekaligus menikmati keindahannya.
Jalur setapak menuju lokasi pemanjatan akan mengantar pendaki melewati pepohonan hutan, danau, dan suara khas hutan tropis. Sesekali terdengar kicau burung liar yang seolah menjadi pengiring langkah kaki sebelum berhadapan dengan dinding-dinding batu alam di Gunung Lengkuas.
Di kalangan pendaki Bintan, rock climbing di kawasan Lembah Lestari kerap disebut olahraga vertikal. Sebab, setiap gerakan tangan dan pijakan kaki harus seirama dengan ritme napas serta strategi yang matang.
Tebing batu alam yang kokoh, terkadang licin oleh lumut, menuntut konsentrasi penuh. Satu langkah keliru bisa membuat tubuh terayun, hanya ditahan seutas tali harness di pinggang. Meski demikian, pengaman berupa matras tebal dan pendamping berpengalaman selalu siap menjaga keselamatan.
Di balik setiap pijakan kaki dan genggaman tangan, tersimpan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar mencapai puncak. Namun saat tiba di atas, rasa syukur dan kemenangan berpadu dengan panorama Pulau Bintan yang terbentang luas: danau biru, langit terbuka, dan lanskap hijau hutan tropis.
Selain keindahan, puncak Gunung Lengkuas seakan menjadi ruang renung. Manusia begitu kecil di hadapan alam, tetapi mampu menemukan kekuatan besar saat berani menaklukkan tebing batu.
Bagi pencinta olahraga ekstrem, baik pemula maupun profesional, menaklukkan tebing di Gunung Lengkuas adalah perjalanan menemukan keberanian sekaligus melatih kesabaran. Rock clim-bing bukan sekadar olahraga, melainkan perjalanan batin yang mengajarkan arti jatuh, bangkit, dan menjinakkan rasa takut.
Jadi Ruang Edukasi bagi Atlet dan Generasi Muda
Komunitas panjat di Bintan juga terus berkembang. Salah satunya Dompak Climbing Club (DCC).
Bagi mereka, Gunung Lengkuas tidak hanya arena olahraga ekstrem, tetapi juga ruang edukasi untuk generasi muda agar mengenal lebih dekat dunia panjat tebing, sekaligus belajar menjaga kelestarian alam.
Ahmad (39), anggota DCC, mengatakan Gunung Lengkuas yang memiliki sumber mata air besar seakan menyimpan filosofi hidup.
“Untuk mencapai puncak tebing, siapa pun harus berdoa, bersyukur, dan tidak boleh takabur. Harus berani menghadapi ketakutan, melawan rasa lelah, dan terus melangkah meski jalannya terasa berat,’’ ujarnya.
Di Lembah Lestari, terdapat dua tebing batu alam. Pertama, Tebing Tapak setinggi 8 meter. Kedua, Tebing Batu Topak setinggi 6 meter. Ke-duanya cocok untuk latihan pemula maupun penggiat rock climbing profesional.
Dua tebing ini bisa jadi sarana latihan atlet muda panjat tebing sekaligus tempat uji nyali bagi pencinta olahraga ekstrem,’’ kata Ahmad saat diwawancarai Batam Pos di Tanjungpinang, Rabu (3/9).
Menurut Ahmad, Tebing Tapak dan Tebing Batu Topak bukan hanya destinasi wisata, melainkan ruang untuk bersyukur, menguji keberanian, dan menemukan jati diri di tengah batu dan langit terbuka.
Ahmad menjelaskan, untuk mencapai lokasi, pengunjung bisa menempuh perjalanan dari Tanjungpinang menuju Jalan Lingkar Wacopek. Dari kaki gunung, kendaraan dapat diparkir di perkebunan karet. Pendakian menuju tebing memakan waktu sekitar 1020 menit.
Komunitas DCC juga mengingatkan wisatawan agar selalu menjaga kebersihan dan kelestarian alam Gunung Lengkuas dari penebangan liar. Mereka berharap pihak berwenang ikut melindungi kawasan ini agar tetap lestari.
Banyak tebing di Gunung Lengkuas yang belum dieksplorasi.
“Potensinya besar sebagai wisata panjat tebing. Tapi saat ini kami masih kekurangan peralatan dan pembuat jalur panjat,’’ ujarnya.
Bagi wisatawan yang ingin mencoba, Komunitas DCC menyediakan jasa pendam-pingan dan perlengkapan keselamatan.
“Lebih dari sekadar peralatan, yang paling dibutuhkan adalah keberanian, kesabaran, dan kepercayaan diri. Jadi, siapa pun yang mau belajar mendaki dan panjat tebing, silakan hubungi IG @kualibintan86,’’ ajak Ahmad. (***)
Reporter : Yusnadi Nazar
Editor : RYAN AGUNG