Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Perilaku pelanggan bergerak dinamis mengikuti situasi, kondisi, dan perkembangan zaman. Mengacu istilah populer pembeli adalah raja, maka industri atau penjual adalah pihak yang dituntut untuk beradaptasi mengikuti pola dan kebutuhan konsumen. Pengusaha, khususnya di sektor ritel dan pusat belanja, terus memastikan strategi yang relevan dengan dinamika pelanggan.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyebut sektor perdagangan Indonesia sempat diresahkan oleh fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana). Fenomena dimana pelanggan yang datang hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat alih-alih melakukan transaksi.
Menurut Aphonzus, fenomena tersebut bukan merupakan hal baru. Oleh karena itu, pusat perbelanjaan akan terus dituntut untuk beradaptasi dalam mendekatkan diri dengan konsumen. Lebih dari sekadar tepat jual beli, mal harus menonjolkan fungsi yang lebih luas dalam menghadirkan pengalaman bagi pengunjung.
“Fungsi pusat perbelanjaan sekarang bukan hanya lagi sebagai tempat belanja, kami juga terus berupaya menghadirkan fungsi edukasi, hiburan, sosial, budaya dan sebagainya,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Alphonzus, tingkat okupansi mal relatif stabil di kisaran 85 persen. Pengusaha pun tetap berharap agar rangsangan daya beli dapat dilakukan pemerintah, agar pelanggan mau melakukan konsumsi yang tinggi di paruh kedua 2025.
“Kalau daya beli segera pulih dan meningkat, maka sektor usaha ritel akan terdorong pertumbuhannya,’’ ucapnya.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menambahkan, fungsi pusat perbelanjaan berkembang menjadi ruang rekreasi dan sosial. Lebih luas dari sekadar belanja fisik.
“Mal tetap jadi jujukan utama sebagai showroom. Untuk makan, nongkrong, minum,” ujarnya.
Fenomena showrooming, sambung Budiharjo, mendorong peritel mengintegrasikan kanal penjualan daring dan luring (omnichannel). Hippindo menilai bahwa dukungan kanal online, menjadi tantangan sekaligus dukungan yang harus terus diramu dalam upaya transformasi industri ritel.
“Dengan semakin kuatnya integrasi offline dan online, sektor ritel Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi digital nasional. Terlihat bahwa arah industri ritel akan semakin mengedepankan kolaborasi dan inovasi teknologi,’’ bebernya.
Untuk mendukung keterikatan pengusaha dan pelanggan, Budihardjo menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mendorong konsumsi domestik, salah satunya melalui insentif. Selain itu, pe-ngendalian impor ilegal, serta isu-isu perpajakan juga dinilai penting untuk diformulasikan secara fair.
“Kami harap ada kesetaraan pajak agar tidak terjadi disparitas harga yang merugikan ritel offline. Online dan offline harus diperlakukan setara agar persaingan lebih adil,’’ tegasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG