Buka konten ini

Jazz kini bukan lagi musik yang hanya dinikmati golongan tertentu. Kini, jazz bertransformasi menjadi genre yang bisa dinikmati semua kelompok umur. Kepulauan Riau akan menjadi tuan rumah festival jazz skala besar pada Desember mendatang.
MALAM itu, udara di Mega Legenda, Batamkota, terasa berbeda. Di King of Point Caf’dentingan keyboard berpadu lembut dengan tiupan saksofon, ritme drum, dan vokal hangat. Tidak ada deru distorsi gitar atau riuh musik keras; yang ada hanyalah suasana intim, syahdu, dan penuh improvisasi khas jazz.
Para musisi Yohanes Gondo, Zamis, Swarna, serta drummer Luke Jozsua mengisi malam dengan harmoni yang tenang. Publik hanyut dalam alunan musik yang seolah membawa penonton pada perjalanan panjang jazz di Batam.
Acara ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa. Ia merupakan bagian dari Road to Sea Jazz Blossoms, rangkaian menuju festival jazz berskala besar yang direncanakan berlangsung pada Desember 2025.
”Sea Jazz ini adalah penerus atau pengganti dari ASEAN Jazz yang pernah populer beberapa tahun lalu. Harapannya bisa berkembang, bukan hanya di Batam, tetapi juga di Tanjungpinang dan Bintan karena di sana banyak juga peminat jazz,’’ kata Pembina Batam Jazz Society, Buralimar, Sabtu (30/8).
Batam Jazz Society sendiri tak hanya berhenti pada panggung-panggung kafe. Mereka rutin menggelar program bulanan Jazz Selasa dengan konsep berpindah lokasi di kafe dan kedai kopi di Batam.
Pilihan hari Selasa bukan tanpa alasan. ”Hari lain biasanya musisi sudah penuh jadwal. Selasa justru memberi ruang baru,’’ jelas Buralimar.
Tak hanya itu, mereka juga membawa jazz ke pelosok lewat program Jazz Go to Island. Pertunjukan perdana di Belakangpadang mendapat sambutan luar biasa. Di pulau yang kental dengan nuansa Melayu itu, jazz hadir bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan budaya.
Malam semakin berwarna ketika Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Harris Pratamura, ikut naik ke panggung. Dengan suara tenang, ia membawakan lagu My Way karya Frank Sinatra ditemani para musisi jazz.
Usai penampilannya, Nyanyang mengapresiasi geliat musik jazz di Kepri. ”Selama ini jazz identik dengan kota-kota besar, seperti Jakarta lewat Java Jazz. Saya berharap regenerasi musisi jazz bisa muncul di Kepri,’’ ujarnya.
Pemprov Kepri, lanjut Nyanyang, siap mendukung perkembangan jazz melalui integrasi program budaya dalam kalender tahunan.
Mulai dari kegiatan mingguan, bulanan, hingga festival besar tahunan, musik diyakini mampu menjadi magnet pariwisata sekaligus wajah baru pertumbuhan ekonomi kreatif di Kepri.
Ketua Jazz Forum Batam, Rian, menyebut jazz lahir dari Amerika Serikat lalu bertransformasi ke berbagai penjuru dunia, termasuk Amerika Latin yang melahirkan nuansa bossa nova. Di Indonesia, jazz sempat menyatu dengan instrumen tradisional dan melahirkan warna jazz etnik.
Jazz itu selalu bisa berbaur. Dari progresif, fusion, sampai bossa nova. Di Indonesia kita kenal Krakatau, Fariz RM, Indra Lesmana, dan banyak lagi,’’ kata Rian.
Kini, era digital memberi keuntungan besar. Musisi muda lebih mudah mengakses rekaman, sejarah, dan referensi jazz dari masa ke masa. Dari situlah muncul warna baru tanpa kehilangan akar. ”Peran Batam Jazz Society adalah memberi edukasi bahwa jazz itu milik semua kalangan. Bukan musik eksklusif, tetapi bisa dinikmati siapa saja,’’ tambahnya.
Malam itu ditutup dengan tepuk tangan panjang. Road to Sea Jazz Blossoms baru saja dimulai, namun atmosfernya sudah terasa. Batam, Tanjungpinang, hingga pulau-pulau di Kepri kini bersiap menjadi tuan rumah jazz, genre musik yang tak pernah lekang oleh waktu. (***)
Reporter : Azis Maulana
Editor : RYAN AGUNG