Buka konten ini

Jakarta (BP) – Di tengah gejolak aksi demonstrasi di sejumlah daerah, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid. Meski, indeks harga saham gabungan (IHSG) melorot, nilai tukar rupiah juga masih terdepresiasi.
Pada perdagangan Senin (1/9), IHSG ditutup pada level 7.736,07. Terkoreksi 94,43 poin atau minus 1,21 persen dari penutupan perdagangan saham Jumat (29/9) sebesar 7.830,49.
“Penurunan hanya terjadi saat demo besar hari Jumat, untuk itu pemerintah yakin optimisme ini masih ada di tengah tengah kita dan harus kita jaga,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam dialog stabilitas pasar modal Indonesia di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, kemarin (1/9).
Dari sisi nilai tukar, Airlangga menuturkan, rupiah sebesar Rp 16.490 per USD hingga 29 Agustus 2025. Relatif stabil meski masih mencatatkan depresiasi 2,35 persen sejak awal tahun. Sedangkan, data terkini Bloomberg Market Spot Rate sampai pukul 16.30 WIB, mencatat rupiah berada di level Rp 16.418 per USD.
Sementara itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyebutkan, penguatan fundamental pasar tercermin dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang justru menambah jumlah emiten Indonesia. Artinya, secara fundamental, pasar modal Indonesia masih bagus.
Hanya saja dari sisi persepsi, Iman mengakui sempat ada kekhawatiran di kalangan investor asing. Namun kondisi tersebut dinilai sudah mulai membaik. ”Belum ada revisi trading halt,” tegasnya. Penguatan kepercayaan terhadap pasar domestik tercermin dari peningkatan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Serta, masuknya sejumlah emiten ke dalam indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE). ”Ini sinyal positif bahwa pasar kita tetap menarik bagi investor global,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO