Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Sektor makanan dan minuman (mamin) terus menjadi penopang utama perekonomian nasional. Keunggulan bahan baku yang melimpah, kapasitas produksi yang kompetitif, serta permintaan dalam negeri yang stabil mendorong pelaku usaha semakin agresif menembus pasar global, termasuk Afrika dan Belanda.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengungkapkan kinerja ekspor mamin terus menunjukkan tren positif. Hingga Mei 2025, nilai ekspor makanan dan minuman – termasuk minyak sawit – mencapai USD 18,59 miliar, dengan surplus neraca perdagangan sebesar USD 13,14 miliar.
Salah satu produsen, PT URC Indonesia, baru saja melepas 10 kontainer berisi produk makanan ringan ke Pantai Gading (Ivory Coast) melalui Cikarang Dry Port pada Kamis (28/8).
“Langkah ini menjadi contoh nyata perluasan pasar sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga daya saing agar industri nasional tetap kompetitif di kancah global,” kata Putu di Jakarta, Sabtu (30/8).
Menurutnya, ekspor biskuit menjadi salah satu subsektor yang konsisten tumbuh setiap tahun. Saat ini, terdapat lebih dari 100 produsen biskuit di Indonesia dengan kapasitas terpasang mencapai 1,72 juta ton dan utilisasi sekitar 62 persen. Dengan capaian tersebut, Indonesia kini berada di posisi ke-11 pemasok biskuit dunia dengan kontribusi 3,59 persen.
Di sisi lain, peluang ekspor juga terbuka di Belanda, terutama untuk produk halal.
Kementerian Perdagangan RI melalui Atase Perdagangan (Atdag) di Den Haag memfasilitasi pertemuan antara Toko Kopi Tuku dan lembaga sertifikasi halal Eropa, Halal Quality Control (HQC) Group. Pertemuan ini bertujuan membantu pelaku usaha memahami proses sertifikasi halal di Belanda dan strategi penetrasi pasar halal di Eropa.
Atdag RI di Den Haag, Annisa Hapsari, menyebutkan komunitas muslim di Belanda yang mencapai sekitar 1,2 juta orang, termasuk 140 ribu di Amsterdam, menjadi target potensial.
“Tren halal di Belanda dan Uni Eropa tumbuh pesat, dengan nilai mencapai USD 396 miliar pada 2024 dan diperkirakan meningkat menjadi USD 663,4 miliar pada 2033. Menariknya, permintaan produk halal juga datang dari konsumen non-muslim karena dinilai lebih etis dan sehat,” jelas Annisa.
Sementara itu, Head of Product Toko Kopi Tuku, Muhammad Ramiz, menegaskan bahwa sertifikasi halal menjadi bukti konsistensi merek dalam menjaga kualitas. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah melalui fasilitasi pertemuan dengan lembaga sertifikasi internasional yang diakui Belanda. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO