Buka konten ini

Jakarta (BP) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok hingga 2,27 persen ke level 7.771,28 pada penutupan sesi I perdagangan, Jumat (29/8). Sentimen negatif yang kuat berasal dari meluasnya aksi demonstrasi di Jakarta sejak Kamis malam, memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 662 saham melemah, hanya 89 saham menguat, dan 49 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat tembus Rp13,31 triliun.
Analis pasar modal Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menilai ketidakstabilan politik dalam negeri jadi pemicu utama. “Kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan aksi demo dan dampaknya ke sektor riil mulai terasa,” ujarnya.
Tak hanya itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, meski indeks dolar (DXY) menurun, menunjukkan pasar tengah alami ketidaksinambungan. “Big caps juga tak solid hari ini,” tambah Oktavianus.
Di sisi lain, komoditas emas menjadi satu-satunya titik terang, menembus level tertinggi sebulan terakhir di angka USD 3.400 per troy ounce. Sektor barang baku berpeluang jadi penopang.
Dilansir dari Antara, analis pasar modal, Reydi Octa, menambahkan tekanan jangka pendek masih akan berlanjut akibat kombinasi capital outflow, sentimen eksternal dari The Fed, serta ketegangan politik domestik. “Strategi wait and see paling masuk akal saat ini. Tapi sektor consumer staples dan telekomunikasi layak dicermati bila situasi tak kunjung stabil,” ujarnya.
Aksi demonstrasi yang berpusat di depan Gedung MPR/DPR sejak Kamis (28/8) malam, memanas dan meluas ke sejumlah titik. Ketegangan meningkat setelah seorang driver ojek online (ojol) menjadi korban insiden di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Pasar tampak bereaksi cepat terhadap dinamika sosial-politik yang dinilai bisa mengganggu stabilitas ekonomi jika berlarut. (*)
Reporter : JP Group
Editor : IMAN WACHYUDI