Buka konten ini

BATAM (BP) – Kenyamanan warga Batam kembali terganggu. Di sejumlah wilayah, masyarakat kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon. Tulisan “Gas Habis” menghiasi hampir semua pangkalan.
Pranantaka, warga Mediterania, mengaku sudah berkeliling ke sejumlah pangkalan di kawasan Batam Center, namun semua kosong.
“Saya ke warung-warung ada, tapi harganya melambung jadi Rp35 ribu per tabung. Ada juga yang jual Rp30 ribu. Mau tak mau, saya beli,” ujarnya kepada Batam Pos.
Pantauan Batam Pos di SPBU Mediterania sekitar pukul 10.00 WIB juga mendapati kondisi serupa. Gas melon kosong. Begitu pula di tiga pangkalan sepanjang jalan menuju Mega Legenda, termasuk di kawasan Legenda Malaka. Semua pangkalan kehabisan stok.
Sempat beredar kabar kelangkaan gas disebabkan pasokan dari Pertamina dikurangi. Namun, kabar itu dibantah Pertamina Patra Niaga.
Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Kepri, Bagus Handoko, mengatakan distribusi justru meningkat dibandingkan tahun lalu. Pada 2024, realisasi distribusi harian mencapai 144 metrik ton. Kini pasokan sudah naik menjadi 177 metrik ton per hari.
“Tidak ada istilah dikurangi. Justru kebutuhan semakin bertambah,” ujarnya, Selasa (26/8).
Menurutnya, sebagai kota tujuan pendatang, kebutuhan LPG di Batam sulit diprediksi karena mobilitas masyarakat sangat dinamis. Pertumbuhan pelaku UMKM, khususnya kuliner rumahan dan warung makan, juga menjadi faktor utama lonjakan permintaan.
Pertamina memastikan UMKM adalah pihak yang berhak menerima subsidi. Karena itu, strategi pemenuhan kebutuhan terus dilakukan, meski butuh waktu untuk menyesuaikan distribusi.
“Kami evaluasi kebutuhan tiap tiga bulan sekali. Agen bersama pemerintah daerah memberikan rekomendasi agar distribusi bisa disesuaikan,” kata Bagus.
Ia memastikan kelangkaan bukan karena suplai macet. Justru distribusi di Batam naik 20 persen dibandingkan tahun lalu, tertinggi secara nasional.
“Kekosongan tabung lebih disebabkan panic buying. Warga takut tidak kebagian, jadi beli berlebihan,” ujarnya.
Pertamina bersama Disperindag Kota Batam terus melakukan pengawasan distribusi agar tepat sasaran. Masyarakat juga diimbau tidak panik karena stok LPG 3 kilogram di Batam dipastikan aman.
Sidak Laundry Nakal
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam bersama Pertamina Patra Niaga Kepri dan Hiswana Migas Kepri menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah usaha laundry, Selasa (26/8). Razia dilakukan menindaklanjuti laporan adanya laundry yang menggunakan gas melon.
Sidak digelar di Batam Kota, Bengkong, Batuaji, Windsor, hingga Pelita. Di beberapa lokasi tidak ditemukan pelanggaran. Namun di kawasan Pelita, tim menemukan empat laundry menggunakan total 10 tabung LPG 3 kilogram.
Kepala Disperindag Batam, Gustian Riau, mengatakan kegiatan itu untuk menindaklanjuti laporan adanya laundry yang menggunakan LPG subsidi, terutama di kawasan Lubukbaja.
“Kami sidak ke Windsor sesuai laporan, tapi ternyata tidak benar. Dari sembilan laundry yang kami datangi, tidak ada yang menggunakan gas melon,” tegas Gustian.
Ia menyebut rata-rata laundry di kawasan Windsor menggunakan tabung gas 5,5 kilogram serta listrik. Namun di Pelita, masih ada empat laundry kedapatan menggunakan gas melon.
“Tabung mereka langsung diganti dengan LPG non-subsidi 5,5 kilogram. Saat ini masih sebatas pembinaan. Tapi kalau nanti masih kedapatan, akan diberi sanksi tegas,” ujarnya.
Menurut Gustian, Pemko Batam sudah melarang penggunaan LPG 3 kilogram oleh usaha laundry. Gas subsidi itu diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan UMKM, bukan usaha menengah ke atas.
“Masalah muncul ketika gas sampai ke pangkalan langsung habis. Setelah dicek, ternyata dipakai laundry. Jadi ini bagian dari pengawasan sekaligus edukasi agar pelaku usaha tertib aturan,” katanya.
Ketua Hiswana Migas Kepri, Harian Haris, juga menyoroti penyebab kekosongan gas akibat penggunaan tidak tepat.
“Gas melon tidak boleh dipakai laundry. Kami imbau pengusaha beralih ke tabung 5 kilogram atau non-subsidi lainnya,” tuturnya.
Pertamina Siapkan Program Trade-In
Penggunaan LPG 3 kilogram untuk laundry dilarang sesuai aturan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Peraturan Menteri ESDM Nomor 28 Tahun 2021 menegaskan gas melon hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin, usaha mikro, nelayan, dan petani kecil.
Bagus Handoko mengatakan, sebagian besar pelaku usaha laundry masih menggunakan gas melon bukan karena sengaja, tetapi karena kurang memahami aturan.
“Niat kami adalah edukasi. Laundry jelas tidak termasuk yang berhak menggunakan LPG 3 kilogram,” ujarnya.
Pertamina menyiapkan program konversi bagi usaha laundry. Melalui mekanisme trade-in, dua tabung gas melon dapat ditukar dengan satu tabung Bright Gas 5,5 kilogram.
Selain konsumsi lebih efisien hingga 29 persen, Bright Gas juga lebih aman karena dileng-kapi fitur double spindle. Dari sisi biaya, selisih harga dengan LPG subsidi setelah dihitung efisiensi hanya sekitar Rp6.500 per kilogram.
“Dengan penghematan serta keunggulan lain, penggunaan Bright Gas lebih masuk akal untuk usaha,” kata Bagus.
Pertamina berharap edukasi dan fasilitas konversi ini membuat pelaku usaha sadar beralih ke LPG non-subsidi. (*)
Reporter : Yashinta – Arjuna
Editor : RYAN AGUNG