Buka konten ini

GAZA (BP) – Ribuan keluarga terpaksa meninggalkan Kota Gaza setelah serangan udara dan artileri Israel kembali menghantam kawasan padat penduduk pada Minggu (24/8). Meski tekanan internasional kian meningkat, Israel menyatakan akan melanjutkan operasi militernya hingga Hamas menyerah dan membebaskan seluruh sandera.
Serangan terbaru menyasar distrik Zeitoun, Shejaiya, Sabra, dan Jabalia di pinggiran Kota Gaza. Warga menggambarkan situasi penuh panik. Tidak ada lagi tempat yang aman. “Kami hanya bisa membawa anak-anak dan meninggalkan rumah tanpa tahu ke mana harus pergi,” ujar salah satu warga yang dikutip The Guardian.
Pasukan Israel menggunakan alat peledak jarak jauh untuk menghancurkan bangunan. Tiga warga bahkan terjebak di bawah reruntuhan. Banyak yang memilih bertahan karena keterbatasan. “Kami tidak punya uang, tidak ada kendaraan, dan tidak tahu di mana yang lebih aman. Jadi kami hanya berdoa di rumah,” kata warga lain.
Krisis Kemanusiaan
Kondisi gizi dan bantuan makin memburuk. Menurut PBB, Gaza saat ini menghadapi kelaparan tingkat tertinggi, dengan lebih dari 500.000 orang mengalami kelaparan akut dan bisa meningkat hingga 640.000 dalam enam minggu ke depan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sedikitnya 289 orang, termasuk 115 anak meninggal karena malnutrisi sejak awal tahun. Insiden tragis lain terjadi ketika empat warga Palestina tewas tertembak saat berusaha mengambil bantuan makanan di sekitar koridor Netzarim.
Tolak Gencatan Senjata
Israel menolak seruan gencatan senjata. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan operasi militer akan diteruskan hingga Hamas menyerah tanpa syarat. Ia bahkan memperingatkan bahwa Kota Gaza bisa dihancurkan jika Hamas tidak menyerah.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengecam rencana ofensif Israel sebagai tindakan yang membahayakan prospek gencatan senjata dan menunjukkan ketidak seriusan Israel dalam negosiasi.
Ibu Kota Yaman Digempur, 6 Orang Tewas
Tak hanya menghujani altileri ke Gaza saja. Serangan udara Israel juga menyasar ibu kota Yaman, Sanaa, pada Minggu (24/8), sebagai respons atas serangan rudal beruntun dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Insiden ini menandai eskalasi baru dalam konflik antara Israel dan milisi Houthi, yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun sebagai dampak dari perang di Gaza.
Pejabat kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan 6 orang tewas dan 86 orang luka-luka akibat serangan tersebut. Militer Israel menyatakan bahwa serangan udara ini menargetkan kompleks militer dekat istana presiden, dua pembangkit listrik, dan asilitas penyimpanan bahan bakar.
Houthi sebelumnya meluncurkan rudal balistik bertipe cluster munitions ke arah wilayah Israel. Ini merupakan kali pertama jenis rudal demikian diluncurkan dari Yaman, dan menandai eskalasi dalam taktik mereka.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan tanggapan atas berulangnya serangan oleh Houthi, termasuk peluncuran rudal dan UAV ke wilayah Israel. Sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, kelompok Houthi yang beraliansi dengan Iran secara konsisten melakukan serangan terhadap kapal di Selat Merah dan beberapa kali menembakkan rudal ke Israel sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO