Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Pentagon dilaporkan telah melarang Ukraina menggunakan rudal jarak jauh buatan Amerika Serikat (AS) untuk menyerang target jauh di dalam wilayah Rusia. Aturan baru ini berlaku sejak akhir musim semi 2025 dan mencakup sistem Army Tactical Missile System (ATACMS) yang sebelumnya diberikan Washington kepada Kyiv.
Dilansir dari The Guardian, pembatasan tersebut merupakan bagian dari mekanisme peninjauan baru yang diperkenalkan oleh Elbridge Colby, Wakil Menteri Kebijakan Pentagon. Dengan aturan baru ini, setiap penggunaan senjata buatan AS, maupun senjata sekutu yang bergantung pada intelijen AS, harus melalui persetujuan terlebih dahulu.
“Aturan ini tidak hanya berlaku untuk rudal ATACMS, tetapi juga mencakup rudal Storm Shadow buatan Inggris, karena peluncurannya sangat mengandalkan data target dari AS,” tulis laporan itu.
Trump Menentang Eskalasi
Mantan Presiden Donald Trump, yang kembali memimpin AS sejak awal 2025, diketahui menentang penggunaan senjata jarak jauh untuk menyerang wilayah Rusia. Trump berulang kali menyebut langkah tersebut hanya akan memperburuk eskalasi konflik.
“Trump secara konsisten menyatakan bahwa penggunaan senjata jarak jauh buatan AS untuk menyerang Rusia merupakan sebuah kesalahan yang hanya akan memperpanjang perang,” ujar seorang pejabat senior AS yang dikutip The Guardian.
Stok Amunisi Menipis
Di sisi lain, pembatasan ini juga dipengaruhi oleh faktor logistik. Persediaan amunisi AS disebut semakin menipis, sehingga Washington berusaha membatasi penggunaan senjata-senjata canggih oleh Ukraina.
Sebagai kompensasi, AS telah menyetujui penjualan 3.350 rudal Extended Range Attack Munition (ERAM) kepada Ukraina. Namun, biaya pengadaan rudal tersebut akan ditanggung oleh negara-negara Eropa. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO