Minggu, 15 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Si Kecil Dirawat, Orangtua Dididik soal Parenting

Daycare Rumah Pelita Jadi Solusi Problem Stunting di Semarang

Sejumlah anak tampak bercanda riang di ruang bermain daycare di desa Kadirejo, Gunungpati, Semarang beberapa waktu lalu. Mereka dititipkan oleh orang tuanya karena alasan khusus, yakni pemantauan stunting atau tengkes.

Anak-anak itu ditangani di salah satu penitipan atau Daycare milik Pemko Semarang, yakni Daycare Rumah Pelita. Dwi Sayekti Kadarini bersama puluhan kader sehari-hari memantau tumbuh kembang anak-anak itu di daycare.

Rumah Pelita adalah daycare yang dikhususkan untuk anak-anak stunting atau yang terindikasi stunting. Program ini diluncurkan sejak awal 2023. Kini, sudah 11 daycare Rumah Pelita yang tersebar di seluruh plosok kota Semarang.

Rumah Pelita merupakan daycare khusus stunting yang fokusnya pada pola asuh, pemenuhan asupan gizi, serta mendekatkan akses pelayanan kesehatan. Yang perlu diketahui, daycare ini gratis.

Untuk menurunkan stunting, perlu pendekatan sensitif dan spesifik. Di Rumah Pelita, dua hal ini dilakukan dengan kolaborasi multisektor.
Anak yang diketahui stunting dan orangtuanya tidak dapat mengasuh karena bekerja, maka dapat menitipkan anaknya.
Di sini, anak akan dipantau asupan gizinya. Tidak hanya itu, anak-anak akan distimulasi tumbuh kembangnya dengan berbagai kegiatan sesuai usianya.
Bahkan di ruang yang nyaman, anak yang dititipkan akan mendapatkan tidur siang. Diharapkan, tidur siangnya pun berkualitas. Selain itu, si kecil juga akan diperiksa kondisi kesehatannya secara berkala.
Tak hanya menguntungkan si kecil, Rumah Pelita juga diharapkan dapat membantu ayah bunda dalam pola asuh. Di sini, orangtua akan men­da­patkan kelas parenting tentang pengasuhan anak stunting.
Daycare ini tidak selamanya. Sebab, anak yang sudah dinyatakan tidak tengkes, artinya lulus dan tidak lagi dititpkan di daycare. Harapannya, orangtua dapat mengasuh sendiri dengan standar yang sudah ditetapkan oleh daycare.

Menurut Dwi, berdasarkan pengamatannya di daycare Rumah Pelita, stunting bukan hanya soal kekurangan ekonomi. Ada beragam sebab lain yang bisa membuat anak jadi stunting.
”Ditinggal ibunya bekerja lalu dititipkan ke neneknya, ternyata dikasih makan yang kurang tepat,” tuturnya belum lama ini.

Wilayah Kadirejo, lanjut Dwi, memang sudah zero stunting sejak dua tahun terakhir. Namun, intervensi terus dilakukan agar mereka yang rawan stunting bisa tumbuh normal.

Oase Orangtua yang Bekerja
Program ini menjadi oase bagi para orangtua yang bekerja dan tak memiliki pe­ngasuh. Anak-anak yang sudah teridentifikasi mengalami stunting dititipkan sejak pagi dan dijemput sore hari, dengan pendampingan intensif oleh tenaga kesehatan.

”Selama dititipkan, mereka tidak hanya diasuh, tapi juga dipantau pertumbuhan tubuhnya, kesehatannya dijaga, dan gizinya dipenuhi. Bahkan ada layanan edukasi juga,” kata Subkor Perencanaan Sosial Bapeda Kota Semarang, Johanes Adhi Nugroho, saat ditemui Jawa Pos (grup Batam Pos) Jumat lalu.

Berbeda dengan daycare biasa, Rumah Pelita dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan anak dengan.
Di dalamnya tersedia tenaga profesional seperti perawat, ahli gizi (nutrisionis), hingga psikolog bila dibutuhkan. “Rasionya juga dijaga ketat, satu tenaga hanya menangani tiga hingga empat anak,” kata Johanes.

Harapannya, dengan cara ini, pengasuh dapat fokus pada pertumbuhan anak yang dititipkan. Kapasitas tiap unit daycare berkisar antara 12–20 anak. Lingkungan daycare dirancang senyaman mungkin. Termasuk ruang istirahat ber-AC dan tempat tidur yang layak. Tujuannya agar menciptakan suasana aman dan nyaman yang mendukung pertumbuhan optimal anak.

Anak-anak bisa dinyatakan “lulus” dari daycare stunting bila kondisi fisik, terutama tinggi dan berat badan sebagai indikator utama stunting, telah membaik. Namun pemantauan tidak akan berhenti di situ.

“Kami juga evaluasi berat badan, lingkar kepala, bahkan perkembangan kognitif,” jelas Johanes. Bila kondisi anak kembali menurun, daycare yang berada di bawah wewenang Dinas Kesehatan Kota Semarang ini siap menerima mereka kembali untuk intervensi lanjutan.

Tak Hanya Rawat si Kecil, Orangtua juga ’Disekolahkan’
Selain untuk anak, edukasi juga diberikan kepada orangtua. Tujuannya agar setelah lulus dari Rumah Pelita, si kecil tidak kembali ke kondisi stunting karena pola asuh atau asupan gizi yang kurang tepat.

Hingga pertengahan 2025, sudah ada 11 Daycare Rumah Pelita di Kota Semarang. Sebanyak 10 unit dibangun menggunakan dana APBD, sedangkan satu daycare di Kelurahan Bandara, dibangun menggunakan dana CSR dari Tanoto Foundation.

“Penanganan stunting itu kerja kolektif. Kami dibantu CSR, akademisi, organisasi profesi seperti POGI dan IDAI, sampai komunitas,” tutur Johanes.

Organisasi profesi juga turut terlibat dalam edukasi dan juga audit maternal perinatal, khususnya bagi para orangtua. Ini bertujuan untuk mencegah kematian ibu dan bayi.
Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengatasi stunting dan masalah kesehatan lain.

Sementara itu Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Budi Setyono, menyebut stunting menjadi masalah nasional yang cukup berat.

Prevalensi stunting di Indonesia saat ini masih 19,9 persen. Menurut Budi, ini merupakan jumlah yang cukup berat jika tidak ditanggung bersama. ”Idealnya 100 persen tidak ada penduduk stunting. Kalau mau save landing di bawah 10 persen,” ucapnya. (***)

Reporter: Ferlynda Putri Sofyandari
Editor: Alfian Lumban Gaol